Damkar kota Semarang
DC pelaku laporan kebakaran palsu melakukan klarifikasi di kantor Damkar Kota Semarang.(Dok. BahteraJateng)

DC Pelaku Prank Laporan Kebakaran Palsu ke Damkar Kota Semarang Minta Maaf, Siap Terima Sanksi

SEMARANG[BahteraJateng] – Bonaventura Soa alias Bone, debt collector (DC) yang diduga membuat laporan kebakaran palsu ke Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Semarang, akhirnya memenuhi panggilan klarifikasi pada Sabtu (25/4).

Bone datang ke kantor Damkar sekitar pukul 16.30 WIB, terlambat tiga setengah jam dari jadwal yang sebelumnya dijanjikan pukul 13.00 WIB. Keterlambatan tersebut sempat menimbulkan kekecewaan dari pihak Damkar.


Pria asal Nusa Tenggara Timur yang datang dari Sleman, DI Yogyakarta itu hadir didampingi rekan sesama debt collector dan keluarganya. Saat proses klarifikasi, ia tampak gugup dan mengaku sempat merasa takut untuk datang.

Sekretaris Damkar Kota Semarang, Ade Bhakti Ariawan, menegaskan bahwa aksi prank laporan kebakaran palsu sudah sering terjadi dan meresahkan petugas layanan darurat.

“Hal seperti ini sudah berulang kali terjadi, tidak hanya di Semarang tetapi juga di berbagai daerah. Teman-teman ambulans juga sering mengalami. Semoga ini jadi pembelajaran,” ujarnya.

Kasus ini bermula dari laporan kebakaran palsu yang diduga terkait pesanan fiktif di sebuah warung nasi goreng milik Adi. Video prank tersebut kemudian viral di media sosial dan menuai kecaman publik karena dinilai membuang waktu serta sumber daya petugas.

Dalam klarifikasinya, Bone menyampaikan permohonan maaf kepada Damkar Kota Semarang, pemilik warung, serta masyarakat luas.

“Saya meminta maaf sebesar-besarnya kepada Damkar Semarang dan seluruh Damkar di Indonesia. Saya mengakui kesalahan saya dan datang untuk mempertanggungjawabkannya,” kata Bone.

Ia juga menyatakan siap menerima sanksi atas perbuatannya. “Saya siap menerima konsekuensi atau sanksi sosial,” ujarnya.

Bone mengaku tindakan tersebut merupakan inisiatif pribadi dan tidak berkaitan dengan prosedur operasional standar (SOP) perusahaan tempatnya bekerja.

“Ini murni inisiatif saya sendiri, di luar SOP perusahaan,” ungkapnya.

Ia juga mengaku tidak menyangka aksinya akan viral dan menjadi perhatian publik. Selain itu, Bone membantah keterlibatan dalam kasus prank serupa yang terjadi di Sleman.

Pihak Damkar mengingatkan bahwa laporan palsu kepada layanan darurat dapat berdampak serius, karena berpotensi menghambat penanganan kejadian yang sebenarnya membutuhkan bantuan.

Kasus ini masih menjadi perhatian publik, sementara Damkar Kota Semarang mempertimbangkan langkah lanjutan, termasuk kemungkinan penanganan melalui jalur hukum.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *