Sekretaris Komisi D DPRD Kota Semarang, Anang Budi Utomo.(BahteraJateng)
| |

DPRD Kota Semarang Dorong Pencegahan Stunting Demi Wujudkan Generasi Emas 2045

SEMARANG[BahteraJateng] – DPRD Kota Semarang, Anang Budi Utomo, menekankan pentingnya upaya pencegahan stunting sejak dini guna memastikan generasi muda siap menyongsong Indonesia Emas 2045.

Hal ini disampaikan Anang Budi Utomo saat meninjau kegiatan Pekan Imunisasi Dunia di Posyandu Kuncup Melati, Kelurahan Tambakrejo, Kecamatan Gayamsari pada Rabu (16/4).


“Anak-anak saat ini merupakan Generasi Indonesia Emas 2045. Pada tahun tersebut, mereka berada di usia produktif. Jangan sampai saat itu mereka justru terdampak stunting,” tegas Sekretaris Komisi D DPRD Kota Semarang tersebut.

Politisi dari partai Golkar itu menyebutkan bahwa langkah pencegahan perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari memantau Lingkar Lengan Atas (LiLA) ibu hamil hingga menjaga pola makan anak-anak yang pernah terdampak stunting.


“Banyak faktor pemicu stunting, seperti ibu hamil yang kesulitan makan karena ngidam. LiLA ibu hamil sebaiknya minimal 23 cm. Bagi anak yang pernah mengalami stunting, pola makan harus dijaga agar tidak kambuh,” jelasnya.

Terkait program Makan Bergizi Gratis di Kota Semarang, Anang mengungkapkan bahwa saat ini program tersebut masih dalam tahap uji coba.

“Program kemarin baru sebatas ujicoba. Targetnya pada tahun 2025, sekitar 40 persen anak-anak sasaran sudah bisa menerima manfaat dari program ini,” pungkas Anang.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Mochamad Abdul Hakam, menyatakan bahwa wilayah Semarang Utara masih memiliki kasus stunting tertinggi dengan sekitar 400 kasus.

Secara keseluruhan, angka stunting di Kota Semarang naik menjadi 2,7% atau sekitar 2.100 kasus pada periode Januari–Maret 2025.

Hakam menegaskan bahwa penanganan stunting adalah pekerjaan jangka panjang yang memerlukan kolaborasi lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD) seperti Dinas Perkim, DLH, DP3A, dan Bappeda.

Ia juga menyoroti pentingnya edukasi kepada masyarakat, terutama generasi muda, melalui pendekatan komunitas seperti Karang Taruna dan Pramuka agar kesadaran mengenai stunting meningkat.(sun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *