Gunoto Saparie
Ketua Dewan Kesenian Jawa Tengah, Gunoto Saparie.(Foto Ist)

Fosil Manusia Jawa Akhirnya Pulang ke Tanah Asal

SEMARANG[BahteraJateng] – Setelah lebih dari seabad tersimpan di Museum Leiden, Belanda, ribuan fosil manusia purba asal Indonesia akhirnya dipulangkan ke tanah air.

Di antara koleksi itu terdapat fragmen tengkorak, tulang paha, dan gigi yang ditemukan Eugène Dubois di Trinil, Bengawan Solo, pada akhir abad ke-19, yang dikenal dunia sebagai Pithecanthropus erectus atau manusia Jawa (Java Man).


Kepulangan fosil ini disambut sebagai tonggak sejarah dalam upaya repatriasi benda budaya. Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah, Gunoto Saparie, menyatakan bahwa pengembalian fosil tidak hanya menyangkut benda mati, melainkan juga narasi sejarah yang selama ini dikendalikan pihak kolonial.

“Yang kembali ke Indonesia bukan sekadar fosil rapuh, melainkan juga pengakuan bahwa sesuatu yang pernah diambil kini dikembalikan. Repatriasi bukan hanya soal benda, tetapi juga soal siapa yang berhak menyusun cerita,” ujarnya, Jumat (3/10).


Menurut Saparie, temuan Dubois di Trinil pada 1890-an dibawa ke Eropa dan dijadikan koleksi ilmuwan Barat. Sejak itu, tubuh purba manusia Jawa justru lama terasing dari tanah asalnya.

“Ada ironi di sana. Fosil dari Jawa tidak pernah disemayamkan di Jawa, melainkan diasingkan selama lebih dari seratus tahun,” katanya.

Ia menambahkan, repatriasi ini sekaligus momentum refleksi bagi Indonesia untuk lebih serius menjaga warisan budaya. Pasalnya, fosil dan benda purba memerlukan perawatan khusus, sementara museum di Indonesia kerap luput dari perhatian.

“Sejarah yang pulang akan sia-sia bila tidak disambut dengan kesanggupan merawat. Warisan budaya tidak cukup hanya dibanggakan sebagai simbol identitas, tetapi menuntut tanggung jawab panjang,” tegasnya.

Selain itu, lanjutnya, yang harus dirawat bukan hanya benda, tetapi juga ingatan. Fosil manusia Jawa merupakan bagian dari sejarah peradaban dunia sekaligus identitas bangsa.

“Repatriasi adalah perjalanan pulang sebuah kesadaran, bahwa sejarah kita tidak pernah tuntas dan ingatan kolektif kita masih menunggu untuk dirawat,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *