Forum sinau bareng Majelis Masyarakat Maiyah Kalijagan
Majelis Masyarakat Maiyah Kalijagan Tlatah Demak kembali menggelar forum sinau bareng bulanan dengan mengangkat tema “Gambuh”, Sabtu (28/2).(Dok. Maiyah Kalijagan)

Majelis Maiyah Kalijagan Demak Bahas Tembang Gambuh dalam Forum Sinau Bareng

DEMAK[BahteraJateng] – Majelis Masyarakat Maiyah Kalijagan Tlatah Demak kembali menggelar forum sinau bareng bulanan dengan mengangkat tema “Gambuh” pada Sabtu (28/2).

Kegiatan yang telah berlangsung selama sembilan tahun ini dihadiri jamaah dari berbagai daerah, tokoh masyarakat, serta unsur pemerintah daerah.

Forum menghadirkan Sabrang Mowo Damar Panuluh sebagai narasumber. Turut hadir Sekretaris Daerah Kabupaten Demak Sugiharto, KH Ali Masydar selaku Pengasuh Pondok Al-Ishlah, serta perwakilan Yayasan Joglo Notobratan Sragen dan para penggiat Maiyah.

Sesepuh Kalijagan, Ali Darmo, menyampaikan bahwa Maiyah Kalijagan secara konsisten mengkaji nilai-nilai keteladanan Sunan Kalijaga melalui suluk, tembang, dan berbagai karya budaya beliau.

“Selama sembilan tahun ini kami berupaya mengkaji ajaran dan karya-karya Sunan Kalijaga setiap bulan. Kehadiran Mas Sabrang menjadi bagian dari ikhtiar memperkaya pemahaman tersebut,” ujarnya.

Perwakilan Yayasan Joglo Notobratan, Budi, menjelaskan bahwa pendopo yang digunakan sebagai lokasi kegiatan merupakan bangunan cagar budaya yang berdiri sejak 1800-an.

Ia juga menyampaikan filosofi “mancing” yang dimaknai sebagai simbol pitulungan (pertolongan), serta dikaitkan dengan ajaran manunggaling kawulo lan Gusti dalam tradisi spiritual Jawa.

Nilai-nilai tersebut, menurutnya, sejalan dengan semangat Forum Maiyah Kalijagan yang selama ini berupaya menghadirkan ruang pertemuan antara dimensi budaya, spiritualitas, dan realitas sosial.

Melalui tema “Gambuh” yang berarti pertemuan atau penyatuan, forum ini tidak hanya menjadi tempat berkumpul secara fisik, tetapi juga ruang menyatukan gagasan, pengalaman, dan kesadaran kolektif jamaah dalam merawat harmoni kehidupan.

Dalam sambutannya, Sekda Demak Sugiharto, mengapresiasi konsistensi Maiyah Kalijagan sebagai ruang dialog sosial dan budaya yang terbuka bagi masyarakat.

“Forum seperti ini penting untuk merawat harmoni dan memperkuat nilai-nilai kebersamaan di tengah kehidupan bermasyarakat,” katanya.

Pembahasan utama mengulas makna tembang “Gambuh” yang dalam tradisi macapat dikenal sebagai tembang ketujuh setelah Pangkur dan Megatruh. Secara filosofis, gambuh dimaknai sebagai pertemuan atau menyatunya berbagai unsur kehidupan.

Pemateri menjelaskan bahwa kehidupan manusia tidak terlepas dari relasi antarelemen baik pribadi, sosial, maupun spiritual serta menekankan pentingnya pekerti dan tindakan nyata sebagai cerminan nilai diri.

Dalam sesi dialog, Mas Sabrang menyampaikan bahwa dirinya hadir untuk berdiskusi dan belajar bersama jamaah. Diskusi berkembang pada refleksi kebangsaan dan realitas sosial.

Mengemuka pandangan bahwa berbagai persoalan bangsa memerlukan penyelesaian bertahap dan kolaboratif, termasuk penguatan peran masyarakat dalam membuka peluang ekonomi dan lapangan pekerjaan.

Kegiatan berlangsung interaktif hingga akhir acara. Majelis Maiyah Kalijagan Demak menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan forum sinau bareng sebagai ruang refleksi budaya, spiritualitas, dan kebangsaan yang inklusif serta konstruktif bagi masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *