Ngono Yo Ngono Ning Ojo Ngono: Ekspresi Merdeka yang Paripurna
Oleh Agus Widyanto
MULANYA biasa saja, tapi begitu didalami dan direnungkan, ternyata luar biasa. Itulah pengalaman bergulat dengan falsafah Jawa “Ngono Yo Ngono Ning Ojo Ngono” yang arti bebasnya kira-kira “Begitu ya boleh saja, tapi jangan begitu dong”. Falsafah yang menurut ahli Bahasa Jawa penulisan ejaan yang benar adalah “ngana ya ngana ning aja ngana” ini ternyata sebuah ekspresi yang dahsyat tentang Merdeka, tentang Kemerdekaan.

Mari kita runut mengenai Merdeka dan Kemerdekaan. Merdeka dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) disebutkan punya tiga arti. Yang pertama bebas dari belenggu atau penjajah. Yang kedua tidak terkena atau lepas dari tuntutan. Dan yang ketiga Merdeka memiliki arti tidak terikat, tidak bergantung pada pihak atau orang tertentu, dan leluasa. Adapun definisi Kemerdekaan menurut KBBI ialah sebuah kebebasan, lepas, tidak mendapat tekanan dari luar, tidak terjajah dan lain-lain.
Lain kamus, lain pula penafsiran para cerdik pandai. Pahlawan Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara, memaknai “Manusia Merdeka” sebagai manusia yang telah diberi kebebasan oleh Tuhan Yang Maha Esa untuk mengatur kehidupannya dengan tetap sejalan dengan aturan yang ada di masyarakat. Jelas di sini bahwa Merdeka bukan situasi sesaat, juga bukan sesuatu yang tanpa batasan. Makna Merdeka atau Kemerdekaan harus tetap sejalan dengan aturan yang ada. Kemerdekaan bukan kebebasan yang mutlak!
Yang lebih ekstrim adalah pemberian makna Merdeka dan Kemerdekaan oleh Tan Malaka. Sosok yang disebut memiliki 23 nama samaran sekaligus sebagai orang yang dianggap kontroversial ini, sejatinya adalah tokoh yang tercatat sebagai “orang pertama yang menyebut nama Indonesia”. Penulis buku berjudul “Naar de Republiek Indonesia” juga dikenal dengan konsep “Merdeka 100%” yang dikutip dari pernyataannya kepada para sahabatnya seperti Soekarno, Hatta, dan Agus Salim pada 24 Januari 1946.
Kita kutip sekilas ucapannya, “….. Aku merasa kemerdekaan itu tidak kalian rancang untuk kemaslahatan bersama. Kemerdekaan kalian diatur oleh segelintir manusia, tidak menciptakan revolusi besar. Hari ini aku datang kepadamu, wahai Sukarno sahabatku. Harus aku katakan bahwa kita belum Merdeka, karena Merdeka haruslah 100%. Hari ini aku melihat bahwa kemerdekaan hanyalah milik kaum elit, yang mendadak bahagia menjadi borjuis, sukacita menjadi ambtenaar… Kemerdekaan hanyalah milik kalian, bukan milik rakyat”.
Tan Malaka berpendapat bahwa Merdeka harus 100%. Total. Tak boleh ditawar-tawar. Sebuah negara harus mandiri menguasai kekayaan alamnya dan mengelola negerinya tanpa ada intervensi asing. Bangsa yang merdeka, menurut Tan Malaka (1897-1949) dalam risalahnya, Merdeka 100% (1946), adalah bangsa yang sanggup mandiri secara mental, budaya, politik, pertahanan, dan ekonomi; tidak bergantung pada dan dikuasai oleh bangsa lain.
Itulah yang banyak dinarasikan tentang Merdeka 100%-nya Tan Malaka. Meski sosok yang oleh Moh Yamin disebut sebagai “Bapak Revolusi Indonesia” ini secara bijak menguraikan konsepsi Merdeka 100% menjadi naskah dialog yang menarik dan cair dalam naskah yang ditulis setelah peristiwa Pertempuran Surabaya yang mencakup “Politik”, “Rencana Ekonomi Berjuang”, dan “Muslihat”. Percakapan tentang politik ini terjadi antara MR. APAL (wakil kaum inteligensia), SI TOKE (wakil pedagang kelas menengah), SI PACUL (wakil kaum tani), DENMAS (wakil kaum ningrat), dan SI GODAM (wakil buruh besi).
Definisi Merdeka oleh Tan Malaka dinarasikan dalam dialog seperti ini:
“SI TOKE : Sini, Denmas! Denmas, tuan sudah dengar kami belum lagi mendapat kecocokan tentang arti MERDEKA. Tetapi saya sudah yakin, bahwa MERDEKA itu tidak berarti boleh menjalankan kemauan diri sendiri saja, dengan tiada mempedulikan hak dan kemauan orang lain. Bukankah begitu, Cul, sari perundingan kita tadi.”
“SI PACUL : Memang begitu. Tetapi siapakah dan bagaimanakah cara membatasi kemauan masing-masing orang? Cobalah Denmas kasih jawab!”
“DENMAS : Memang kemauan liar diri sendiri itu mesti dibatasi. Di zaman Majapahit umpamanya kemauan liar tak terbatas itu dikendalikan ke jalan yang baik oleh raja yang adil dan bijaksana.”
Di akhir dialog yang diberi judul “Kemerdekaan Ditinjau Kembali”, SI PACUL memaksa SI GODAM mengambil Kesimpulan. “Cobalah, Dam, engkau berikan beberapa kesimpulan dari perundingan kita sampai sekarang.”
Meski mengaku kesulitan, SI GODAM pun terpaksa melakukannya. Ini hasil Kesimpulan SI GODAM tentang Kemerdekaan: “Kemerdekaan itu bukanlah Kemauan Tunggal orang atau negara, melainkan kemauan Terikat (bukan absolut melainkan relatif). Kemerdekaan itu sendiri mestinya berdasarkan pengakuan atas kemerdekaan pihak lain. Sebaliknya kemerdekaan di pihak kita diandaikan atas pengakuan pihak lain terhadap kemerdekaan sendiri. Apabila berkenaan satu sama lainnya itu terganggu, maka kemerdekaan itu tak akan kekal adanya. Dengan adanya pengakuan atas terikatnya kemerdekaan itu satu sama lain, maka kemerdekaan itu menjadi rasional, masuk diakal, berakal.”
Jika memakai rasa hati, bukan sekedar alur atau kebenaran berdasar logika, Merdeka dan Kemerdekaan dalam pandangan yang paling ekstrim pun mengandung unsur layak, patut. Sama seperti dalam pemahaman Jawa, setiap hal harus memenuhi dua kriteria: Bener (Logis, Rasional); dan Pener (Patut, Layak, Pantas, Baik).
Tidak berlebihan jika diselami ternyata konsepsi Merdeka 100% Tan Malaka (lahir 2 juni 1897 dengan nama Ibrahim Gelar Datuk Sutan Malaka) senyampang dengan falsafah Jawa “Ngono yo ngono ning ojo ngono”. Sebuah ekspresi sikap yang mengajarkan dan mengingatkan masyarakat Jawa, hanya dengan kematangan moral bisa lahir sikap dan budi luhur sebagai watak utama orang Jawa.
Rangkaian kalimat ajaran dan peringatan yang terasa membingungkan itu, menjadi mudah dipahami kalau untuk mengukur hal-hal yang lahir, setidaknya dipakai dua parameter secara seimbang” Bener lan Pener”. Kalimat “ngono yo ngono ning ojo ngono” yang terkesan merupakan sebuah sindiran, kerap memiliki peran dalam penyelesaian konflik, bahkan mencegah terjadinya konflik. Implementasi konsepsi tersebut menjadi jalan sederhana dalam tata cara hidup sebagai “seni meletakan diri” yang kualitasnya diukur dengan kesadaran diri. Kalau posisinya terlalu berat, ambil posisi yang lebih ringan; kalau terlalu ringan tambah sedikit beratnya.
Dalam paham Jawa, Merdeka adalah ekspresi kebebasan yang memiliki batas maya yang disebut rasa, perasaan. Garis batas yang imajinatif, sehingga tidak bisa sama untuk semua orang. Dan, rentang panjang garis dari ego ke batas yang patut itulah yang membedakan Tingkat kemuliaan seseorang. Manusia yang mulia punya batas Merdeka yang lebih bisa diterima lingkungannya. Itulah ekspresi paripurna Merdeka 100%-nya Orang Jawa: Ngono yo ngono ning ojo ngono.
(Agus Widyanto, wartawan senior, peminat kebudayaan dan falsafah Jawa)

