Pangkas Pengangguran, Upaya Jateng Dongkrak Perekonomian
SEMARANG [BAHTERA JATENG]- Laju pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah diharapkan mampu memangkas jumlah pengangguran di tengah ketidakpastian dinamika global. Strategi tepat akan menarik investasi agar berdampak luas bagi masyarakat.
Fithriono (45) mengecek tali sepatu, memastikan terikat sempurna di rumah Candi Penataran, Kelurahan Kalipancur, Kecamatan Ngaliyan. Setelah mengantar buah hati ke sekolah dia lantas bergegas mengarahkan kendaraan ke Kendal.
Ayah dua ini kembali menjadi rutinitas bekerja di perusahaan pasca terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) tujuh tahun lalu. Saat itu dia langsung membuka usaha laundry di rumah untuk membuat dapur tetap berdenyut.
Seiring pertambahan usia anak-anak serta kebutuhan keluarga meningkat dia lantas berusaha mencari tambahan penghasilan. Gayung pun bersambut ketika ditawari tetangga untuk bergabung di sebuah pabrik di Kawasan Industri Kendal (KIK). Setelah menjalani tahapan perekrutan dia diterima dengan gaji UMK. Dia mengaku usia tak menjadi masalah karena kondisi kesehatan tubuh masih prima.
“Pabrik-pabrik dibuka di sekitar Semarang membuka lapangan pekerjaan baru. Bahkan untuk usia-usia di atas 40 tahun juga merasakan manfaat dari banyaknya pembukaan pabrik,” kata dia.
Fithri, adalah salah satu warga Jateng memiliki keinginan mendapatkan tambahan penghasilan untuk menopang keluarga. Provinsi Jawa Tengah menawarkan sejuta harapan bagi para pencari kerja.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah memperlihatkan Tingkat pengangguran terbuka (TPT) hingga Agustus 2024 terjadi penurunan jika dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
“TPT merupakan penduduk tidak bekerja tapi mencari pekerjaan dan mempersiapkan usaha baru. Sudah diterima bekerja tapi yang bersangkutan belum mulai bekerja atau merasa tidak mungkin mendapat pekerjaan,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah, Endang Tri Wahyuningsih, di sela-sela rilis belum lama ini.
Data terhimpun hingga Agustus 2024, tingkat pengangguran di Jateng tercatat sebesar 4,78 persen, menurun dibanding Agustus 2023.
TPT tertinggi tercatat di Brebes mencapai 8,35 persen. Sebaliknya, TPT terendah tercatat di Temanggung sebesar 2,35 persen.
Dalam laporan tersebut dipaparkan, penduduk usia kerja tercatat sebesar 29,71 Juta orang atau meningkat sebanyak 335 Ribu orang.
“Penduduk usia kerja adalah mereka berumur 15 tahun ke atas. Penduduk usia kerja cenderung meningkat seiring jumlah penduduk Jawa Tengah bertambah,” ungkap dia lagi.
Sementara jumlah Angkatan Kerja mencapai 21,91 Juta oran, naik sebanyak 840 orang dibanding tahun lalu. Jumlah tersebut terdiri dari mereka yang bekerja mengalami kenaikan 20,86 Juta orang atau meningkat sebanyak 873 orang.
“Dan sebaliknya pengangguran mengalami penurunan untuk keadaan Agustus 2024,” terang dia.
Dia menerangkan, dilihat sepanjang periode pada Agustus 2023-Agustus 2024 terjadi penyerapan kerja sebanyak 873 orang.
Adapun rinciannya adalah pekerja penuh adalah mereka yang bekerja lebih dari 35 jam seminggu. Jumlah pekerja penuh mencapai 14,76 Juta orang atau naik 675 orang.
Sedangkan pekerja paruh waktu adalah mereka kurang bekerja selama 35 jam seminggu tetapi tidak mencari pekerjaan atau tidak bersedia menerima pekerjaan lain. Rilis tersebut juga mencatat sebesar 4,54 juta orang atau turun sebanyak 83 ribu orang.
Sedangkan, kriteria pekerja setengah pengangguran adalah mereka kurang bekerja selama 35 jam seminggu dan masih mencari dan menerima pekerjaan tambahan 1,56 juta orang atau naik 261 ribu orang.
Tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) merupakan presentasi banyaknya angkatan kerja terhadap penduduk usia kerja selama setahun terakhir. Dapat dilihat peningkatan TPAK lebih tinggi pada perempuan dibandingkan laki-laki. Pada bulan Agustus 2024 tercatat 73,74 persen.
“Jadi terus meningkat TPAK di Jateng,” kata dia.
Dilihat untuk jenis kelamin kondisi Agustus 2024 tingkat pengangguran terbuka laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan.
Tapi dibandingkan tahun sebelumnya untuk laki-laki menurun untuk perempuan mengalami kenaikan. Sekitar 4,78 persen artinya diantara 100 orang termasuk angkatan kerja ditemukan lima orang menganggur.
Proporsi penduduk bekerja pada kegiatan formal terus meningkat, utamanya didorong oleh meningkatnya pekerja dengan status buruh/ karyawan/ pegawai.
Pekerja formal mereka berusaha dibantu buruh tetap/ karyawan. Pekerja informal adalah mereka berusaha sendiri atau dibantu buruh tidak tetap, pekerja bebas dan pekerja keluarga atau tidak dibayar.
Endang Tri Wahyuningsih mengatakan, perekonomian Jawa Tengah triwulan III 2024 mengalami pertumbuhan positif 4,93 persen (Y-on-Y). Provinsi Jawa Tengah menjadi penyumbang perekonomian terbesar keempat di Pulau Jawa dengan kontribusi sebesar 14,5 persen.
Dia melanjutkan, dari sisi produksi pertumbuhan tertinggi di kuartal III 2024 dicapai oleh lapangan usaha administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib mencapai 10,23 persen.
“Sementara dari sisi pengeluaran, kebaikan tertinggi dicapai komponen pengeluaran konsumsi lembaga non-profit yang melayani rumah tangga sebesar 16,29 persen,” katanya.
Dia menjelaskan, jika dibanding triwulan II, perekonomian Jawa Tengah mengalami peningkatan sebesar 1,05 persen pada triwilulan III ini.
Menurut dia, pertumbuhan lapangan usaha konstruksi memberi kontribusi terbesar terhadap peningkatan perekonomian yang mencapai 9,73 persen.
Sementara jika dilihat dari strukturnya, lanjut dia, perekonomian Jawa Tengah masih didominasi oleh industri pengolahan yang memberikan kontribusi sebesar 33,31 persen.
BPS mencatat produk domestik regional bruto Jawa Tengah atas dasar harga berlaku mencapai sebesar Rp459.046,35 Miliar.
Investasi Makin Bergulir, Pekerja Kian Terserap
Investasi bisa menambah lapangan kerja di tengah ancaman lonjakan angka pengangguran. Masuknya modal membuka keran lapangan pekerjaan serta memberikan harapan.
Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Tengah, Nana Sudjana berupaya menggenjot investasi di provinsi ini. Pertumbuhan investasi menjadi faktor utama menurunnya angka pengangguran terbuka.
“Banyaknya investor yang masuk ke Jawa Tengah dengan dibukanya rumah makan dan pabrik-pabrik, semakin menumbuhkan perekonomian masyarakat dan menekan pengangguran,” kata dia.
Menurutnya, Kota Semarang menjadi salah satu daerah menjadi tujuan investor untuk menanamkan modal. Dengan demikian, kondisi ini diharapkan akan memacu pertumbuhan ekonomi di daerah tersebut dan sekitarnya.
“Kami berharap lebih banyak lagi investor yang masuk, sehingga akan menambah lapangan pekerjaan. Ketika pengangguran turun maka angka kemiskinan juga akan ikut turun,” jelas Nana.
Beberapa kemudahan diberikan Pemprov Jateng untuk menarik investor. Di antaranya, dengan layanan call center, maupun layanan temu muka pada kantor DPMPTSP, 33 Mall Pelayanan Publik (MPP) yang tersebar di seluruh kabupaten/kota di Jateng.
Pengangguran juga merupakan pekerjaan rumah bersama, salah satu pihak turut berkontribusi Kamar Dagang Industri (KADIN) Indonesia Jawa Tengah. Pengembangan pendidikan vokasi dirasa tepat mengatasi masalah pengangguran di Jateng ini.
“Kadin telah membentuk Tim Koordinasi Daerah Vokasi (TKDV) di seluruh kabupaten/kota di Jawa Tengah,” kata Ketua Umum Kadin Jateng, Harry Nuryanto Soediro, belum lama ini.
TKDV, kata dia, bertugas untuk memetakan kebutuhan industri dan merumuskan strategi pengembangan pendidikan vokasi tepat sasaran.
“Bersama EduKadin, kami juga telah melakukan pelatihan dan meluncurkan layanan digital Askedu dan Edumatch untuk membantu perusahaan dalam menerima pemagang,” ujar Harry Nuryanto.
Harry Nuryanto menjelaskan, Kadin juga mendorong lembaga pendidikan vokasi untuk meningkatkan kualitas kurikulum dan program pembelajarannya agar sesuai dengan kebutuhan industri.
Di samping itu, kata dia, Kadin juga mendorong sertifikasi kompetensi bagi para lulusan pendidikan vokasi untuk meningkatkan daya saing mereka di pasar kerja.
“Keterlibatan aktif Kadin Jateng dalam mendorong kemajuan pendidikan vokasi diharapkan dapat menghasilkan SDM unggul dan berdaya saing global,” tegas dia.

