Perhutani KPH Randublatung
Perhutani KPH Randublatung menerima kunjungan kerja tim dari Grup 2 Kopassus Kandang Menjangan di ruang kerja Administratur/KKPH Randublatung, Rabu (8/4).(Dok. KPH Randublatung)
|

Perhutani Randublatung Terima Kunker Grup 2 Kopassus Bahas Pengembangan Jagung Bioetanol

BLORA[BahteraJateng] – Perum Perhutani KPH Randublatung menerima kunjungan kerja tim dari Grup 2 Kopassus Kandang Menjangan di ruang kerja Administratur/KKPH Randublatung pada Rabu (8/4).

Kunjungan tersebut membahas koordinasi potensi lahan hutan untuk pengembangan tanaman jagung sebagai bahan baku energi bioetanol.


Rombongan dipimpin Hotmartua Tarihoran dan diterima langsung oleh Administratur/KKPH Randublatung Herry Merkussiyanto Putro bersama jajaran.

Dalam pertemuan tersebut, Herry menyampaikan dukungan terhadap rencana pengembangan jagung untuk bioetanol, selama tetap memperhatikan aspek legalitas dan kelestarian hutan.


“Perhutani terbuka terhadap inovasi pemanfaatan kawasan hutan yang selaras dengan prinsip pengelolaan hutan lestari,” ujarnya.

Selain itu, Herry menekankan pentingnya pelibatan masyarakat melalui skema kemitraan. Ia berharap program tersebut dapat menggandeng penggarap yang telah memiliki Perjanjian Kerja Sama (PKS), sehingga pelaksanaan di lapangan lebih tertata, minim konflik, dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar hutan.

Ia juga mengingatkan, apabila pengembangan dilakukan di wilayah Perhutanan Sosial, perlu koordinasi dengan Cabang Dinas Kehutanan setempat agar tidak terjadi tumpang tindih kewenangan. Menurutnya, sinergi lintas instansi menjadi kunci keberhasilan program yang melibatkan berbagai skema pengelolaan hutan.

Sementara itu, Kapten Hotmartua Tarihoran menyampaikan bahwa program pengembangan jagung bioetanol tidak hanya berorientasi pada energi, tetapi juga pemberdayaan wilayah dan optimalisasi lahan hutan produksi yang belum dimanfaatkan secara maksimal.

“Jagung sebagai bahan baku bioetanol memiliki nilai strategis untuk mendukung ketahanan energi sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar hutan,” ujarnya.

Melalui kolaborasi antara TNI, Perhutani, pemerintah daerah, dan masyarakat, program ini diharapkan menjadi model pengelolaan hutan yang produktif dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *