Regenerasi Merupakan Kunci Eksistensi Teater
SEMARANG [BahteraJateng]- Eksistensi teater di Kota Semarang memiliki tantangan regenerasi sekaligus dinamika dalam perkembangan selama 20 tahun terakhir.
Akademisi Khothibul Umam mengatakan, medio 2000an teater kampus di Kota Semarang berada pasa masa menyenangkan karena masih ada euforia pasca reformasi.

“Teater kampus mulai meninggalkan karya-karya pamflet politik dan mengeksplorasi artistik secara lebih mendalam,” ungkap dia saat menjadi pembicara diskusi dalam rangka HAE Theater perayaan hari ulang tahun ke enam, di Gedung Serbaguna, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro, Sabtu (4/1).
Pelaku seni tersebut mengatakan, teater umum atau kampung juga sangat dinamis. Alumnus teater kampus masih memiliki keinginan untuk berteater pasca lulus dengan munculnya beberapa kelompok seperti Roda Gila dan Kelab-Kelib Bersaudara, Sawo Kecik dan Nawiji.

“Pasca masa itu, regenerasi di dunia teater Kota Semarang menjadi isu utama karena banyak alumni teater kampus yang tidak melanjutkan aktivitas setelah lulus kuliah,” kata dia.
Selain itu, kata dia, kritik teater juga diarahkan pada kualitas artistik teater kampus, terutama dalam aspek tata panggung dan eksplorasi naskah.
“Teater itu tulang punggung kebudayaan. Kalau seniman lain menyerah, orang teater tetap bertahan karena teater adalah seni yang paling kolektif dan dinamis. Tapi regenerasi itu kunci. Tanpa itu, kita cuma berputar di tempat. Teater kampus tetap menjadi laboratorium seni yang penting untuk mencetak kader penggerak kebudayaan,” ungkap dia.
Ketua Dewan Kesenian Kota Semarang, Adithia Armitianto menambahkan, awal 2000an teater kampus di Semarang mulai ramai. Sementara kelompok teater umum seperti Teater Lingkar dan Teater Waktu masih aktif. Teater Lingkar masih bertahan dan disebut memiliki regenerasi baik hingga kini. Sebaliknya, Teater Waktu mulai meredup setelah meninggalnya Agus Maladi (pendiri Teater Waktu).
“Kalau 20 tahun terakhir, perkembangan teater di Semarang juga bisa dilihat dari bentuk pentas dan juga naskah-naskah yang ditulis dan dipentaskan,” katanya.
Direktur Kolektif Hysteria Ahmad Khairudin mengatakan, teater di Semarang memiliki reputasi unik karena berani tampil beda dan menantang arus.
“Tetapi catatan tentang kelompok-kelompok yang ada dan pernah ada itu tidak ada yang menuliskan, baik oleh diri sendiri maupun orang lain. Generasi muda menjadi sulit belajar dari proses-proses yang sudah dilakukan pendahulunya,” kata dia.
Menurut dia, teater di Semarang membutuhkan strategi agar memiliki masa depan lebih baik. Hal ini butuh eksperimen, kolaborasi dan jejaring dengan disiplin seni lain. “Jangan sampai kita jatuh pada lubang yang sama,” kata dia.
HAE Theater pada perayaan hari ulang tahunnya yang keenam berusaha membaca dinamika tersebut bertema “HAE dan Teater Semarang 20 Tahun Terakhir”.
“Pada usia HAE Theater yang memasuki tahun keenam ini kami mencoba merefleksi dan membaca ulang perjalanan teater di Kota Semarang kurun waktu dua dekade terakhir. Sekaligus menjadi pijakan dan positioning HAE Theater ke depan,” kata Ketua HAE Theater, Ahmad Khoirul Asyhar.

