Samin Surosentiko: Perlawanan Tanpa Kekerasan yang Mengguncang Kolonial
Oleh: Khairul Anisa
Samin Surosentiko bukanlah seorang tokoh militer, melainkan petani sederhana dari Desa Ploso Kediren, Randublatung, Blora, Jawa Tengah. Sosok yang akrab disapa Mbah Suro ini memilih jalan berbeda dalam menghadapi penjajah Belanda: melawan tanpa kekerasan.

Nama Samin Surosentiko sejatinya bukan nama asli. Ia lahir dengan nama Raden Kohar, keturunan Kanjeng Pangeran Arya Kusumowinahyu. Dari desa kecilnya, perlawanan yang ia pelopori kemudian mengguncang sistem hukum kolonial Belanda hingga ke akar.
Menolak Legitimasi Penjajah

Awal mula perlawanan terjadi ketika pemerintah kolonial menerapkan pajak tanah, pajak hasil bumi, serta merampas hutan jati untuk kepentingan industri. Alih-alih mengangkat senjata, Samin menolak dengan cara yang sederhana namun revolusioner: tidak membayar pajak, tidak mengakui kekuasaan kolonial, dan tidak bekerja untuk Belanda.
Bersama para pengikutnya yang kemudian dikenal sebagai Sedulur Sikep, Samin membangun perlawanan pasif. Prinsip mereka jelas: hukum adat lebih tinggi dari hukum kolonial; tanah, air, dan hutan adalah milik bersama; hidup harus dijalani dengan jujur tanpa mengambil hak orang lain.
Ketika ditagih pajak, jawaban Samin kerap membuat pejabat Belanda frustrasi. “Tanah ini bukan milik Belanda, jadi kenapa harus bayar?” ujarnya.
Benturan Dua Sistem Hukum
Bagi Belanda, tindakan ini adalah pelanggaran hukum. Pajak wajib dibayar, hutan milik negara kolonial, dan penolakan berarti pembangkangan. Namun bagi Samin, hukum Belanda hanyalah aturan asing tanpa legitimasi moral di tanah Jawa.
Benturan ini menempatkan banyak pengikut Saminisme di penjara. Meski demikian, mereka tetap konsisten dengan sikap tenang serta ucapan filosofis yang justru membingungkan para petugas kolonial.
Warisan yang Hidup
Gerakan Samin tidak pernah mengangkat senjata, namun dampaknya besar. Saminisme menjadi simbol perlawanan moral, yang membongkar legitimasi kekuasaan kolonial di mata rakyat. Belanda akhirnya menyadari bahwa memenjarakan mereka tidak menghentikan penyebaran ide, justru memperluas pengaruhnya di kalangan petani miskin.
Lebih dari seabad setelah wafatnya Samin Surosentiko, ajarannya masih hidup di Blora, Pati, dan sekitarnya. Prinsip nguwongke atau memanusiakan manusia, tetap menjadi pedoman, sementara semangat perlawanan tanpa kekerasan memberi inspirasi bagi gerakan sosial modern.
Saminisme menunjukkan bahwa keberanian tidak selalu lahir dari senjata, melainkan dari keteguhan hati untuk mempertahankan prinsip. Dalam diam, suara mereka mampu mengguncang sistem kolonial yang tampak kokoh.
(Khairul Anisa, adalah Mahasiswi Prodi Ilmu Hukum Universitas Terbuka, Salut Cepu Raya, Semester V)

