Sedimentasi Bendungan Mrica Kritis, Ancaman Banjir Mengintai Warga DAS Serayu
BANJARNEGARA[BahteraJateng] – Kondisi sedimentasi di Bendungan Panglima Besar Soedirman atau Bendungan Mrica, Banjarnegara, mencapai titik mengkhawatirkan dan kini menjadi perhatian serius dalam aspek mitigasi bencana, bukan sekadar operasional pembangkit listrik.
Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSO) bersama BPBD Banjarnegara melakukan peninjauan langsung ke lokasi pada Jumat (15/5).

Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Banjarnegara, Junaedi, menyebut sedimentasi masif telah menggerus kapasitas efektif bendungan hingga tersisa sekitar 10 persen.
“Dengan 90 persen kapasitas terisi sedimen, kondisi ini menjadi alarm serius bagi keselamatan ribuan warga di sepanjang DAS Serayu,” ujarnya.
Setiap tahun, sekitar 4 juta meter kubik sedimen masuk ke waduk, sementara penanganan manual dinilai hanya mampu mengatasi sebagian kecil dari volume tersebut. Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko banjir besar apabila terjadi cuaca ekstrem maupun gangguan geologis.
Sebagai langkah mitigasi, teknologi Mud Suction Pump mulai diterapkan untuk mempercepat penyedotan lumpur dari dasar waduk menuju area pembuangan khusus.
Namun, pegiat lingkungan Aji Jalu menilai penanganan selama ini masih belum sebanding dengan besarnya ancaman. Ia mendesak pengerukan besar-besaran dan penguatan rehabilitasi hulu DAS Serayu agar sedimentasi tidak terus berulang.
Menurutnya, penyelamatan Bendungan Mrica membutuhkan sinergi kuat antara pemerintah pusat, daerah, dan pengelola bendungan demi melindungi masyarakat sekaligus menjaga fungsi strategis bendungan sebagai sumber energi dan pengendali air di Jawa Tengah.(day)

