| |

Tak Cukup Sekali Berkunjung ke Rumah Atsiri

KARANGANYAR [BahteraJateng]- Berkunjung ke Rumah Atsiri di Desa Plumbon Kecamatan Tawangmangu Kabupaten Karanganyar tak cukup hanya sekali. Wisata edukasi dan estetik menyajikan banyak aktivitas menarik.

Aromaterapi begitu terasa di hidung saat kaki melangkah di pintu depan. Pengunjung merogoh kocek Rp50 Ribu sebagai tiket masuk. Namun, tiket merupakan voucher sebagai alat pembayaran dalam aktivitas di Rumah Atsiri.

Aroma segar, modern dan comfy kental terasa saat menginjakan kaki ke ruangan. Di belakang lobi ada ragam pernak-pernik bisa diborong.

Pengunjung bisa mencium aroma wewangian sebelum membeli parfum, diffuser, hand sanitizer, sabun dan lainnya. Ada salah satu spot menarik di sini yaitu Hirup 7 Aroma Kami.

Mulai 1963, 1941, Rayu, Buai menceritakan perjalanan, tempat, perasaan menyertainya. Setiap aroma adalah lantunan cerita sekaligus kristalisasi memori peramu meneruskan senang dan tenang kepada penikmatnya.

Aroma lain bisa diresapi adalah Kembang Setaman Jasmine, Kembang Setaman Tuberose dan Beksan. Terinspirasi budaya adiluhung Jawa tak terpisahkan dengan aroma. Dari merekam tujuh rupa kembang setaman hingga kisah-kisah di balik ritual dijalani masyarakat Jawa.

Berbagai aroma disediakan dalam bentuk parfum dalam ukuran berbeda. Uniknya pengunjung bisa mencium aroma dari mangkok kaca menutup batu. Salah satu pengunjung, Audrey Nethania (22) tampak mengambil kaca dan menghirup perlahan sembari menutup mata. Dia memilih satu per satu aroma yang mempresentasikan dirinya sekaligus menemani beraktivitas seharian.

“Selama ini hanya browsing (berselancar di dunia maya) dan membayangkan aromanya. Di tempat bisa mencium langsung atau mengoleskan di telapak tangan,” ungkap Audrey Nethania, belum lama ini. 

Dalam angannya Kembang Setaman Jasmine akan memberikan aroma kuat melati. Namun demikian, aroma tersaji merupakan keseimbangan bunga sedap malam dan melati.

“Elegan untuk dikenakan aktivitas sehari-hari baik kuliah maupun bekerja,” kata dia.

Wisatawan masih bisa mengunjungi museum menampilkan koleksi lengkap tentang minyak atsiri. Mulai dari sejarah, proses penyulingan, hingga manfaatnya dalam berbagai aspek kehidupan.

Pengujung bisa juga mengikuti banyak workshop tentang cara membuat parfum, sabun, dan minyak esensial.
Dahulu tempat ini merupakan pabrik minyak atsiri dari era 1960-an bertransformasi menjadi pusat wisata edukasi modern menyimpan sejarah panjang dan keindahan alami.

Tak lupa mampir ke kafe untuk menikmati teh artisan atau sekedar berfoto di Taman Marigold.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *