Warga Gunungpati Bantah Tuduhan Pengeroyokan oleh Dias Kuswoyo
SEMARANG [BahteraJateng] — Warga Dewi Sartika Timur RT 12 RW 05 Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati, Semarang membantah keras tuduhan penganiayaan dan perusakan yang dilaporkan oleh seorang warga bernama Dias Kuswoyo.
Pernyataan klarifikasi disampaikan secara langsung oleh perwakilan warga Dewi Sartika Timur RT 12 RW 05 Semarang, Agung Pramasto alias Bajang atas pemberitaan disejumlah media online beberapa waktu lalu.

Menurut Bajang, tidak pernah terjadi tindakan pengeroyokan atau kekerasan seperti yang dilaporkan Dias kepada aparat kepolisian.
Ia menyebut bahwa insiden yang terjadi pada 25 Mei lalu hanyalah cekcok mulut antara warga dan keluarga Dias, terkait upaya klarifikasi hubungan sosial yang dinilai tidak harmonis.

“Kalau dalam pelaporannya Pak Dias ada penganiayaan di wilayah RT kami, itu tidak ada sama sekali. Sudah ada saksi-saksi dan bukti bahwa kejadian itu hanya cekcok biasa,” kata Bajang, Senin (9/6).
Ia juga membantah adanya perusakan properti seperti gembok dan CCTV. “Silakan dicek langsung ke lokasi. Tidak ada gembok rusak, tidak ada CCTV yang dihancurkan. Semua masih utuh,” ujarnya.
Warga, lanjut Bajang, merasa kecewa karena keluarga Dias dianggap tidak aktif dalam kegiatan kemasyarakatan seperti arisan, kerja bakti, maupun agenda lain yang diselenggarakan RT.
Sebagai bentuk protes, warga memasang spanduk penolakan terhadap keberadaan keluarga Dias di lingkungan tersebut. Menurut Bajang, tindakan itu dilakukan demi menjaga ketertiban dan kenyamanan warga yang sudah terbangun selama ini.
Ketua RT 12 RW 05, Sigit P., turut memberikan klarifikasi serupa saat ditemui wartawan di mushola kampung pada Kamis (5/6) malam.
“Saya pastikan bahwa tidak ada penganiayaan atau perusakan seperti yang disampaikan Pak Dias di beberapa media online. Kejadian itu tidak pernah ada,” tegasnya.
Hal senada disampaikan mantan Ketua RT 12, Hariyono (43), yang biasa disapa Koko, serta Wardaya (42) dan sejumlah warga lainnya. Mereka menyebut sejak awal keberadaannya di lingkungan tersebut, Dias Kuswoyo dianggap tidak menunjukkan etika bermasyarakat, bahkan tidak melapor atau menyerahkan berkas identitas secara langsung saat menempati rumah.
“Dia justru menyuruh orang lain. Padahal kami hanya minta kulonuwun sebagai bentuk etika tinggal di lingkungan warga,” ujar Koko.
Koko juga menambahkan bahwa Dias beberapa kali membuat laporan ke kepolisian yang tidak terbukti, seperti tuduhan pengeroyokan dan pesta minuman keras.
Salah satu contoh, kata dia, terjadi saat Idul Adha tahun lalu, ketika Dias melaporkan adanya pengeroyokan terhadap anaknya hingga mendatangkan aparat kepolisian ke lokasi.
“Setelah dicek, ternyata laporannya tidak benar. Bahkan polisi dari Tim Elang sendiri yang menyampaikan bahwa laporan itu palsu,” ungkapnya.
Warga berharap permasalahan ini dapat diselesaikan secara bijak dan berharap Dias Kuswoyo tidak lagi menyebarkan informasi yang dinilai mencemarkan nama baik warga setempat.(sun)

