Bedah Film “Road to Resilience” dan Buku “Anak Negeri di Pusaran Konflik Suriah” di FISIP UNDIP
SEMARANG[BahteraJateng] – Sedikitnya 200 mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional (HI) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang antusias mengikuti pemutaran film dokumenter “Road to Resilience”, Selasa (3/6) di aula Fimena FISIP Undip Semarang.
Film produksi Kreasi Prasasti Perdamaian (KPP) bersama ruangobrol.id ini adalah bagian dari kampanye edukatif guna mencegah ekstremisme kekerasan di kalangan anak muda.

Usai pemutaran film “Road to Resilience“, para mahasiswa yang hadir aktif berdiskusi dan mengajukan pertanyaan kritis, khususnya mengenai tokoh utama film, Febri Ramdani— seorang pemuda asal Indonesia yang nekat menyusul ibunya ke wilayah kekuasaan ISIS di Suriah pada 2016.
Salah satu mahasiswa HI angkatan 2024, Sakina, mempertanyakan bagaimana akses ke wilayah konflik tersebut bisa dilakukan. “Bagaimana caranya bisa sampai masuk ke negara konflik? Apa gampang aksesnya?” ujarnya.
Diskusi juga menggali lebih dalam situasi di markas ISIS serta dampak psikologis dan sosial yang dialami Febri dan keluarganya sekembalinya ke Indonesia. Film ini dinilai relevan dengan sejumlah mata kuliah seperti Studi Konflik, Keamanan Global, dan Politik Internasional Kontemporer.
Pesan Personal dan Strategi Naratif
Direktur ruangobrol.id, Noor Huda Ismail, menyebut narasi personal seperti kisah Febri lebih efektif menjangkau generasi muda daripada pendekatan normatif.
“Isu terorisme dan radikalisme itu berat dan menakutkan. Tapi lewat film dan kisah nyata, publik bisa memahami bahwa semua ini berawal dari pilihan kecil yang berdampak besar,” ujarnya.
Film ini mengisahkan perjalanan Febri yang berakhir tragis. Bukannya menemukan kehidupan ideal yang dijanjikan, ia justru terjebak dalam penindasan di bawah ISIS. Bersama 16 anggota keluarganya, Febri akhirnya direpatriasi ke Indonesia pada Agustus 2017. Namun, kepulangan itu disertai tantangan besar: stigma sosial, tekanan ekonomi, dan krisis identitas yang membuatnya mengalami depresi berat.
Bedah Buku: Analisis Akademik atas Konflik dan Radikalisasi
Selain film, kampanye ini juga menghadirkan bedah buku “Anak Negeri di Pusaran Konflik Suriah” karya Noor Huda Ismail. Buku tersebut mengangkat kisah nyata WNI yang terlibat dalam konflik Suriah, serta menganalisis motif mereka menggunakan pendekatan 3N (Needs, Networks, Narratives) dan identity fusion.
Dalam paparannya, Huda menjelaskan faktor-faktor pendorong (push) seperti kemiskinan, keterasingan sosial, dan trauma kolektif, serta faktor penarik (pull) seperti janji surga, keuntungan ekonomi, hingga semangat petualangan. Ia juga menyoroti peran media sosial dan ruang gema (filter bubble) dalam memperkuat paham ekstrem.
“Anak-anak sekarang belajar dari TikTok, dari influencer, bukan dari ulama. Jadi pendekatannya harus berubah,” tegasnya.
Kampanye Nasional dan RAN PE
Kegiatan ini merupakan bagian dari roadshow nasional setelah peluncuran program di Jakarta, Februari 2025, oleh Kepala BNPT Komjen Pol Eddy Hartono. Setelah menyambangi Jakarta, Bandung, Lampung, dan Surabaya, Semarang menjadi kota terakhir.
Kegiatan ini juga melibatkan lintas sektor. Dari 20 peserta FGD yang terdaftar pada forum sehari sebelumnya (2/6) di Hotel Noormans Semarang, jumlah hadirin membeludak menjadi 40 orang.
Mereka berasal dari Kesbangpol Kota Semarang, Diskominfo, Disdukcapil, Densus 88, Imigrasi, Bapas, Dinsos, organisasi keagamaan, Forum Anak, hingga Persadani.
Alfrida Heaniti Panjaitan, Analis Kebijakan Ahli Muda BNPT, menyatakan kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan (RAN PE).
“Ini bagian dari roadmap komunikasi strategis fase pertama RAN PE. Dari 135 aksi, 132 sudah dilaksanakan. Sekarang kami fokus mempercepat fase kedua untuk periode 2025–2029,” terangnya.
Indah Pengestu Amaritasari, dari Sekretariat Bersama RAN PE BNPT, menambahkan bahwa terdapat tiga faktor utama yang memfasilitasi keterlibatan individu dalam ekstremisme kekerasan:
Pertama push factor – ketidakberdayaan dan pencarian solusi, kedua pull factor – daya tarik ekonomi, ideologi, dan petualangan dan terakhir fasilitator – lingkungan sosial dan dinamika kelompok yang mendukung kekerasan.
“Budaya kekerasan, balas dendam, dan ketidakpercayaan pada negara sering kali menjadi pupuk bagi paham ekstrem,” ungkap Indah.
Kegiatan ini menegaskan pentingnya pendekatan edukatif, kolaboratif, dan digital dalam menangkal ekstremisme, dengan menempatkan narasi manusiawi sebagai jembatan utama.(sun)

