Menteri Wihaji
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Dr Wihaji mewisuda lulusan S1, S2 dan S3 Sekolah Lansia. Dalam program ini, jenjang S1 diartikan sebagai pemahaman terhadap diri sendiri, S2 sebagai kemampuan berbagi ilmu dalam keluarga, dan S3 untuk kontribusi aktif kepada masyarakat.(Dok Kemendukbangga/BKKBN)

Kemendukbangga/BKKBN Luncurkan “SIDAYA” untuk Wujudkan Lansia Sehat, Mandiri, dan Produktif

LAMONGAN[BahteraJateng] – Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji, resmi meluncurkan program nasional “Lanjut Usia Berdaya” atau SIDAYA di Pendopo Kabupaten Lamongan, Jawa Timur pada Kamis (04/12).

Program ini digagas untuk meningkatkan kualitas hidup penduduk lanjut usia agar semakin sehat, mandiri, produktif, dan mampu berpartisipasi sesuai minat serta potensinya.


Berdasarkan Statistik Penduduk Lanjut Usia BPS 2024, proporsi lansia Indonesia telah mencapai 12 persen dari total populasi 268 juta jiwa.

Angka tersebut menandai bahwa Indonesia memasuki fase aging population, sekaligus membuka peluang bonus demografi apabila kelompok lansia dapat terus berkontribusi bagi pembangunan.

Namun, data BPS juga menunjukkan 42,81 persen lansia melaporkan keluhan kesehatan dalam sebulan terakhir, dengan angka morbiditas 20,71 persen.Menteri Wihaji

Menteri Wihaji menegaskan pentingnya kehadiran negara dalam memastikan kesejahteraan lansia.

“Bapak Presiden sudah menyampaikan, jangan banyak seminar, tapi cek langsung ke lapangan untuk mengetahui kondisi mereka,” ujarnya di hadapan Bupati Lamongan Yuhronur Efendi, anggota Komisi VI DPR RI Ahmad Labib, serta jajaran Forkopimda.

Ia menjelaskan bahwa implementasi SIDAYA dilakukan melalui pendekatan pentahelix, melibatkan kolaborasi lintas sektor.

Program ini mencakup pembentukan Sekolah Lansia di kelompok Bina Keluarga Lansia (BKL), pemberdayaan ekonomi melalui Lansia Entrepreneur, serta penerbitan Kartu SIDAYA sebagai identitas untuk mempermudah akses layanan.

Menu utama SIDAYA meliputi pemeriksaan kesehatan untuk deteksi dini, pelatihan dan pendampingan perawatan jangka panjang berbasis keluarga, akses pendidikan sepanjang hayat bagi lansia melalui Sekolah Lansia, hingga pemberdayaan ekonomi produktif.

Pada peluncuran tersebut, juga diserahkan bantuan simbolis berupa dua kursi roda, dua tongkat kaki dari Kitabisa, serta BKL Kit dari Kemendukbangga/BKKBN.(day)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *