Satupena Jateng
Satupena Jawa Tengah menyelenggarakan Parade Baca Puisi Esai bertema Perempuan dan Bencana, Senin (22/12).(Dok Satupena Jateng)

Satupena Jateng Gelar Parade Baca Puisi Esai

SEMARANG[BahteraJateng] – Satupena Jawa Tengah menyelenggarakan Parade Baca Puisi Esai bertema Perempuan dan Bencana di Ruang Audio-Visual Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Semarang, Jalan Prof. Sudarto, SH No. 116, Semarang pada Senin (22/12).

Kegiatan ini digelar dalam rangka peringatan Hari Ibu sekaligus sebagai perayaan ulang tahun ke-70 Ketua Umum Satupena Jateng, Gunoto Saparie.


Acara dibuka oleh Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Semarang yang diwakili Sekretaris Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Semarang, Bambang Rudi Hartono.

Dalam sambutannya, Bambang menyampaikan apresiasi dan pujian atas kiprah Satupena Jawa Tengah yang konsisten menggalakkan kehidupan literasi, khususnya di Kota Semarang.


“Parade baca puisi esai ini sebagai salah satu bentuk kegiatan literasi yang kreatif dan bermakna, karena mengangkat isu-isu kemanusiaan yang dekat dengan kehidupan masyarakat,” ujarnya.

Sebelumnya, Ketua Umum Satupena Jawa Tengah Gunoto Saparie mengatakan, parade baca puisi esai ini menjadi wadah aktivitas dan kreativitas para penyair untuk menulis serta membacakan puisi, khususnya puisi esai, dengan tema seputar ibu, perempuan, dan kerentanan mereka dalam setiap peristiwa bencana.

Menurutnya, perempuan kerap berada di garis paling rapuh saat bencana terjadi, namun suara dan pengalaman mereka sering kali terpinggirkan. Melalui puisi esai, realitas itu diharapkan dapat disuarakan secara lebih reflektif dan menyentuh.

Sedangkan Ketua Umum Satupena Pusat Denny JA, menggarisbawahi bahwa kita sering memahami bencana sebagai angka: jumlah korban, rumah hancur, jalan terputus. Namun, bagi perempuan, bencana hampir selalu hadir sebagai kehilangan yang paling personal.

Ketika air datang dan tanah runtuh, demikian Denny, perempuan tidak hanya menyelamatkan diri. Ia menyelamatkan anak-anaknya lebih dulu, menyembunyikan ketakutannya sendiri, agar dunia tetap merasa aman, di pelukan yang gemetar.

Sejumlah penyair tampil membacakan puisi dan puisi esai, antara lain Siti Fatimah, Yusri Yusuf, Sun Djok San, Sulis Bambang, Ajeng DK, Agus Wariyanto, Susi Kapas, Driya Widiana, Cinta Logika, Dewi Tri Nugraheni, Bambang AS, dan Ignatius Item De. Selain membacakan karya sendiri, para penyair juga membawakan puisi karya penyair besar Indonesia seperti W.S. Rendra, Chairil Anwar, dan Masrur Ridwan.

Sebelum sesi pembacaan puisi, panitia menayangkan video musikalisasi puisi berjudul “Surga Sebelum Surga” karya Komisaris Rumah Sakit Baitul Hikmah Kendal dr. Siti Qomariyah.

Ditayangkan pula video pembacaan puisi “Oksigen yang Bernama Ibu” karya Ani Murtanti yang dibacakan oleh Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Kota Semarang, Imaniar Yordan Christy.

Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Umum Komite Seni Budaya Nusantara Jawa Tengah Agus Wariyanto, Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah yang diwakili Dian Pranawengtyas, Ketua Bengkel Sastra Taman Maluku Sulis Bambang, serta mubalig Binmas Polda Jawa Tengah Sun Djok San.

Kegiatan berlangsung khidmat dan penuh apresiasi, ditutup dengan pemotongan tumpeng, menegaskan puisi sebagai medium refleksi, empati, dan perlawanan terhadap lupa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *