Dari Kasus Gamma di Semarang hingga Arianto di Maluku, PMII: Evaluasi Total Polri!
SEMARANG[BahteraJateng] – Sorotan atas meninggalnya Arianto Tawakal (14), pelajar di Tual, yang diduga berkaitan dengan tindakan berlebihan aparat Brigade Mobil (Brimob) Polda Maluku, saat pembubaran aksi balap liar pada Kamis (19/2) terus meluas.
Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Semarang ikut mengecam dan mengutuk keras segala bentuk kekerasan, penganiayaan, hingga dugaan pembunuhan terhadap masyarakat sipil oleh aparat.

Terus munculnya kasus kekerasan yang melibatkan aparat, disebut membuat publik kecewa dan mempertanyakan arah pembinaan moral serta profesionalisme di dalam institusi Polri.
Ketua PC PMII Semarang, Muhammad Afiq Nur Cahaya pada Senin (23/2) menyatakan, Polri dibentuk untuk menjaga ketertiban dan melindungi masyarakat sipil. Tapi setiap kali berita tentang kekerasan aparat muncul lagi dan lagi, membuat publik bersedih dan kepercayaan publik kian terkikis.

“Kasus penembakan pelajar SMK di Semarang Gamma Rizkynata Oktafandy, meninggalnya mahasiswa UNNES Iko Juliant saat unjuk rasa. Di tempat lain dan baru kemarin, kabar duka datang dari Maluku, pelajar yang diduga dianiaya oleh anggota Brimob menunjukan bahwa persoalan kekerasan aparat ini (sudah) seperti tersistem,” ujarnya.
PMII Semarang pun menuntut Polri berpihak pada keadilan serta segera mengusut kasus yang belum tuntas dan mengevaluasi kasus yang sudah tuntas.
“Mulai dari transparansi hasil penyelidikan, bukti rekaman, kronologi, dan langkah penegakan hukum harus terbuka sehingga publik tahu proses hukum berjalan semestinya,” imbuh Muh. Afiq.
Kemudian, perlu lembaga pengawas eksternal Polri yang memiliki ruang dan wewenang untuk menelurusi pelanggaran, memberi rekomendasi, dan memastikan tidak ada impunitas. Dan yang terpenting menurutnya adalah penegak hukum harus dibekali soal HAM, komunikasi, dan upaya de-eskalasi konflik.
Sebelumnya sejumlah anggota PMII mendatangi Markas Kepolisian Daerah (Mapolda) Jateng untuk menggelar aksi simbolik pada Senin (23/2) sore. Namun kedatangan mereka langsung dihadang oleh aparat, dan diminta untuk segera bubar sehingga sempat terjadi adu mulut antara petugas dengan mahasiswa.
“Kami hanya ingin istighosah, bagi-bagi takjil dan flyer untuk pemberitahuan kepada masyarakat, bahwa institusi Polri harus dievaluasi total,” ucap Alfian Azizi, korlap aksi.
Sebelum akhirnya meninggalkan mapolda, Muh. Afiq menegaskan bahwa mereka tidak akan berhenti dan akan kembali bukan hanya sekedar aksi simbolik saja, namun juga dengan cara lainnya.(day)

