Ipda. Puguh Agung Dwi Pambuditomo (berseragam dinas Polri) bersama Noor Rita Syofiyawati (berkerudung), saat acara potong tumpeng di HUT ke-3 SLBN Randublatung.(Dok. SLBN Randublatung)

Mengenal Lebih Dekat Sosok “Pejuang” Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Randublatung

BLORA[BahteraJateng] – Bicara tentang pendidikan anak berkebutuhan khusus di Kecamatan Randublatung, Kabupaten Blora, tak bisa dilepaskan dari sosok Suhariyanto, Ipda. Puguh Agung Dwi Pambuditomo, serta Noor Rita Syofiyawati. Ketiganya menjadi figur penting dalam perjuangan berdirinya SLBN Randublatung.

Ipda. Puguh Agung Dwi Pambuditomo, yang kini menjabat sebagai Kanit Turjagwali Satlantas Polres Blora mengisahkan awal mula perjuangan mendirikan rumah belajar bersama Suhariyanto atau yang akrab disapa Antok.


“Awal mulai membentuk rumah belajar sekitar tahun 2017, bersama Mas Antok di rumahnya dengan siswa 3-4 orang anak dan kita mendatangkan guru dan psikolog dari luar. Mulai bertambah murid kita menjadi 30-an anak. Dan itu menjadi problem karena tempat belajar sudah tidak muat,” ujar Puguh kepada BahteraJateng, Jumat (22/5).

Seiring bertambahnya jumlah siswa, rumah belajar sederhana tersebut tidak lagi mampu menampung kebutuhan belajar anak-anak berkebutuhan khusus. Mereka pun harus berpindah-pindah tempat untuk melanjutkan proses belajar mengajar.

“Sebelum dapat tempat untuk belajar mengajar, kami berpindah-pindah ke tempat yang lebih luas. Terkadang di rumah orangtua salah satu siswa,” lanjutnya.

Perjuangan keduanya tidak berhenti sampai di situ. Dengan tekad kuat mendirikan Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN), Puguh dan Antok berupaya melakukan lobi hingga tingkat Provinsi Jawa Tengah menggunakan sepeda motor dan biaya pribadi.

“Kami diperkenankan bertemu dengan Gubernur Jawa Tengah yang saat itu dijabat Ganjar Pranowo. Puncaknya ketika Pak Ganjar datang ke Randublatung dan melihat sendiri kondisi belajar mengajar bagi anak berkebutuhan khusus,” katanya.

Perjuangan panjang itu akhirnya membuahkan hasil. Pada tahun 2023, rumah belajar yang mereka rintis resmi menjadi SLBN Randublatung.

“Saat itu masih menginduk di SLBN Jepon, dan kebetulan waktu itu saya sebagai kepala sekolahnya. Dan SLBN Randublatung sebagai kampus dua,” ujar Kepala Sekolah SLBN Randublatung, Noor Rita Syofiyawati.

Noor Rita dikenal sebagai sosok pendidik yang penuh dedikasi. Peraih penghargaan Kepala Sekolah Hebat Tahun 2024 itu juga menjadi pencipta Mars SLBN Randublatung yang diluncurkan bersamaan dengan peringatan hari jadi sekolah ke-3.

Menurut Noor Rita, setiap anak berkebutuhan khusus memiliki potensi besar yang harus terus digali oleh para pendidik.

“Anak-anak berkebutuhan khusus merupakan mutiara terpendam. Dan guru yang mendampingi setiap hari yang tahu bakat dari masing-masing anak,” ujarnya.

Semangat tersebut terbukti membawa prestasi bagi sekolah yang masih tergolong muda itu. Pada ajang Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) April lalu, SLBN Randublatung berhasil membawa pulang enam piala, ditambah sejumlah piagam penghargaan dari cabang olahraga panjat dinding dan kompetisi lainnya.(day)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *