SMPN 1 Lasem Ciptakan REWAX-IoT
SMPN 1 Lasem meluncurkan REWAX-IoT, teknologi pemulihan dan daur ulang malam batik berbasis Internet of Things yang diperkenalkan dalam Rembang Innovation Award 2026.(Dok. SMPN 1 Lasem)

SMPN 1 Lasem Ciptakan REWAX-IoT, Daur Ulang Malam Batik Jadi Solusi Ramah Lingkungan

REMBANG[BahteraJateng] – SMPN 1 Lasem meluncurkan REWAX-IoT, teknologi pemulihan dan daur ulang malam batik berbasis Internet of Things. Inovasi ini diperkenalkan dalam Rembang Innovation Award 2026 beberapa waktu lalu.

REWAX-IoT merupakan pengembangan dari LAFIBIOL, sistem pengolahan limbah cair batik melalui penyaringan dan sedimentasi. Karya pelajar ini berhasil meraih Juara I Kategori Pelajar Krenova Tingkat Jawa Tengah dan Juara II Rembang Innovation Award 2026.

Pembina Krenova SMPN 1 Lasem, Nailatun Najah, mengatakan ide REWAX-IoT muncul saat tim LAFIBIOL bersosialisasi dengan UMKM batik Lasem.

“Para pengusaha bertanya bagaimana mengolah limbah padat batik. Dari situ lahir REWAX-IoT,” ujarnya kepada BahteraJateng, Kamis (6/8).

Najah berharap, inovasi yang digawangi Ummi Roihana Zulfa, Syafira Isnaini Bodriyanti, dan Luthfia Fathin Adzkiya tersebut, kedepan dapat membantu UMKM mengolah malam agar dapat dimanfaatkan kembali serta mengembalikan lingkungan yang bersih.

“Harapannya REWAX-IoT bisa membantu UMKM batik tulis Lasem dan Indonesia mengolah malam limbah agar bisa dipakai kembali. Lingkungan bersih, industri batik juga berkelanjutan,” kata Najah.

Sebagai tambahan informasi, LAFIBIOL adalah alat inovasi pengolah limbah cair batik hasil karya kelompok siswa SMP Negeri 1 Lasem, Kabupaten Rembang, yang semula keruh menjadi jernih kembali.

Nama LAFIBIOL sendiri merupakan singkatan dari metode yang digunakan, yaitu kombinasi antara Filtrasi, Bioremediasi, dan Elektrolisis.

Sedangkan REWAX-IoT adalah inovasi teknologi ramah lingkungan buatan siswa SMP Negeri 1 Lasem yang berfungsi untuk memulihkan dan mendaur ulang limbah malam (lilin) batik berbasis Internet of Things (IoT).

“Dengan REWAX-IoT, pelajar SMPN 1 Lasem membuktikan mampu menghadirkan solusi nyata bagi persoalan limbah industri batik,” pungkasnya.(day)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *