Bayang-bayang Semu vs Bayang-bayang Nyata Jokowi
Oleh: Agus Widyanto
Saat dikecewakan pemimpin yang berkuasa, cerita tentang pemimpin masa lalu menjadi laris manis di wacana publik. “Piye kabare. Enak Jamanku to?”

Entah kenapa, kita seringkali mengabaikan kepahitan masa lalu, sehingga mudah memitoskan sosok-sosok lama yang pada zamannya juga mengguratkan luka. Memang tidak semua yang telah dilewati menjadi kenangan pahit, tentu saja ada kenangan manisnya pula.
Meminjam istilah psikologi, kenangan pahit disebut trauma; rekaman memori buruk atau ancaman yang sering membuat seseorang was was. Sedangkan kenangan manis dinarasikan sebagai nostalgia, suasana batin yang bisa berfungsi sebagai pengatur emosi, meredakan stres, dan memberikan makna hidup saat menghadapi masa-masa sulit.

Tidak ada yang salah kalau di masa-masa sulit yang kita hadapi seperti sekarang ini, ditambah dengan kekecewaan karena cara berkomunikasi para pemimpin yang tidak sesuai harapan; banyak warga masyarakat menghidupkan memori indahnya di masa lalu. Ada nostalgia politik dengan mengenang era kepemimpinan yang sudah dilewati dipakai untuk meredakan tekanan hidup, mengurangi stress dan menjaga emosi.
Meski hanya bayang-bayang semu, setidaknya dengan bernostalgia harapan akan keadaan yang lebih baik masih bisa dihidupkan.
Yang agak berbeda dengan nostalgia politik sekarang ini adalah masih terasanya bayang-bayang nyata dalam peta politik. Bukan hanya rakyat kebanyakan yang berkunjung untuk bertemu dengan Presiden ke-7 Joko Widodo. Para pejabat aktif di Era Kabinet Merah Putih Prabowo-Gibran masih terlihat modar-mandir ke sowan ke Solo.
Fenomena tersebut tidak bisa hanya dilihat sebagai pertemuan biasa. tidak mungkin hanya ditafsirkan sebagai nostalgia semata. Kenapa, karena selain pejabat serta tokoh masyarakat serta sosok-sosok yang semula rajin mengkritik Jokowi di ruang digital, ada pejabat asing seperti duta besar negara-negara sahabat yang terlihat ke “Ndalem Sumber Solo”.
Terasa ada bayang-bayang nyata Jokowi di era kepemimpinan sekarang. Kesan adanya bayang-bayang nyata makin kuat karena nostalgia politik menjadi bahan baku yang bisa dengan mudah dicetak menjadi realitas psikologis dengan bantuan teknologi informasi.
Di ruang publik, perpaduan bayang-bayang semu nostalgia politik dan bayang-bayang nyata Jokowi yang dijadikan “paranpara” oleh pejabat dan tokoh; menghasilkan kekuatan politik yang patut diperhitungkan. Terlepas dari suka-tidak suka, sosok pengusaha mebel yang berhasil menapaki jenjang kepemimpinan politik dari Walikota, Gubernur sampai Presiden ini masih punya pengaruh poilitik yang signifikan dan terjaga.
Jokowi yang saat menjadi mahasiswa masih memakai mesin ketik manual untuk membuat karya tulis dan skripsinya, mampu memanfaatkan komputer dan teknologi digital untuk menjaga citra dan ketokohannya. Publikasi beberapa survei politik yang menempatkannya masuk setidaknya dalam 3 sampai 5 besar “top of mind” tokoh nasional, bisa dipakai sebagai indikator bahwa “Jokowi bukan sekedar ada, tapi juga berdaya”.
Sebagai bahan baku untuk membangun pengaruh, nostalgia politik adalah komoditas yang memiliki nilai sekaligus dan efek romantisasi. Kalau diolah dengan menambahkan kekecewaan aktual, dan dikemas menjadi konstruksi sosial baru; bakal masuk dalam kognisi kolektif. Publik yang mempercayainya sebagai kebenaran, tidak akan peduli apakah itu sebuah hiperrealitas, simulakra, hasil framing, ataukah rekayasa.
Ingatan kolektif publik hanya akan mencatatnya sebagai “Itu Ada”. Itu saja.
(Agus Widyanto adalah wartawan senior, peminat kebudayaan dan falsafah Jawa)

