Agustina Wilujeng Pramestuti
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng saat memberikan keynote speech dalam Semarang Resilience Forum 2026 bertema “Semarang 2045 Kota Masa Depan yang Tangguh dan Berkelanjutan” di Fakultas Teknik Universitas Diponegoro, Senin (31/8).(Dok. Humas Pemkot)

Agustina Tekankan Perubahan Perilaku Warga Jadi Kunci Semarang Kota Tangguh

SEMARANG[BahteraJateng] — Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng menekankan perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci dalam mewujudkan kota yang tangguh menghadapi berbagai tantangan di masa depan. Teknologi dan pembangunan infrastruktur dinilai tidak akan berjalan maksimal tanpa kesadaran warga dalam menjaga lingkungan.

Hal tersebut disampaikan Agustina saat memberikan keynote speech dalam Semarang Resilience Forum 2026 bertema “Semarang 2045 Kota Masa Depan yang Tangguh dan Berkelanjutan” di Fakultas Teknik Universitas Diponegoro pada Senin (31/8).

Menurut Agustina, sebagai kota pesisir, Semarang menghadapi berbagai persoalan perkotaan, mulai dari banjir, rob hingga sampah. Kondisi tersebut membutuhkan dukungan sistem perkotaan yang kuat sekaligus perilaku masyarakat yang sejalan dengan upaya pemerintah.

Ia menyoroti masih ditemukannya berbagai jenis sampah di sekitar sistem pompa pengendali banjir. Sampah tersebut bahkan berupa ban dan barang-barang rumah tangga yang berpotensi menghambat kinerja infrastruktur.

“Infrastruktur yang dibangun dengan baik tidak akan sustain tanpa perilaku masyarakat yang mendukung,” kata Agustina.

Ia menegaskan, persoalan lingkungan tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan pembangunan fisik maupun teknologi. Kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan harus menjadi bagian dari sistem ketahanan kota.

Menurutnya, pemerintah saat ini terus memperkuat teknologi untuk mendukung penanganan persoalan perkotaan. AISSA (AI Solusi Sampah Semarang) digunakan untuk memantau kondisi TPS secara real-time, sedangkan Flood Eye dikembangkan sebagai platform deteksi dini risiko banjir dan rob.

Di sisi lain, penanganan sampah juga dilakukan melalui berbagai metode, termasuk pirolisis, biodekomposer, dan skema PSEL. Namun, berbagai inovasi tersebut tetap membutuhkan keterlibatan masyarakat agar dapat berjalan secara berkelanjutan.

“Kita hanya akan terus-menerus menguras energi untuk menyelesaikan permasalahan yang diakibatkan oleh budaya yang tidak tertata dan tidak terkoneksi dengan sistem yang sedang dibangun,” ujarnya.

Agustina berharap pembangunan infrastruktur, pemanfaatan teknologi, dan perubahan perilaku masyarakat dapat berjalan beriringan sebagai fondasi Semarang menuju kota yang tangguh dan berkelanjutan hingga 2045.(sun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *