Banjir Demak Lebih dari Sepekan, Petani Terancam Gagal Panen
DEMAK[BahteraJateng] – Puluhan hektare lahan persawahan di Dukuh Kedung Banteng dan Desa Wonorejo, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak, terendam banjir selama lebih dari sepekan. Akibatnya, tanaman padi yang sebagian besar memasuki fase menjelang panen terancam gagal panen.
Sekretaris Desa Wonorejo, Muhammad Saiful Ulum, mengatakan sekitar 30 persen dari total lahan pertanian warga berpotensi mengalami puso. Dari sekitar 80 hektare sawah yang ada, hingga kini genangan air belum sepenuhnya surut.
“Yang paling parah terjadi di Dukuh Kedung Banteng. Ketinggian air cukup tinggi sehingga tanaman padi terendam hampir 10 hari,” ujar Saiful, Selasa (21/1/2026).
Menurutnya, kondisi serupa juga terjadi di sebagian wilayah persawahan Desa Wonorejo, terutama yang berada dekat permukiman warga. Genangan air yang terlalu lama menyebabkan batang padi membusuk dan malai menghitam, sehingga kualitas gabah menurun drastis bahkan tidak bisa dipanen.
Pemerintah desa berharap ada penanganan serius dari pemerintah daerah untuk mengatasi persoalan banjir yang rutin terjadi setiap tahun. Salah satu usulan yang telah disampaikan yakni normalisasi Sungai Afour hingga ke kawasan Sipon Gajah. Selama ini, sungai tersebut dinilai tidak mampu menampung debit air kiriman dari sejumlah desa sekitar saat curah hujan tinggi.
Para petani menyebut banjir sebagai masalah tahunan yang terus merugikan mereka. Namun, keterbatasan pilihan mata pencaharian membuat warga tetap menanam padi meski berisiko mengalami kerugian.
“Panen seharusnya masih sekitar satu bulan lagi. Tapi dengan kondisi padi yang terendam lama, hampir bisa dipastikan hasil panen hilang,” ujar salah seorang petani.
Sebelum musim hujan, harga gabah di tingkat petani sempat mencapai Rp7.300 hingga Rp7.400 per kilogram. Petani khawatir harga akan kembali turun jika curah hujan tinggi terus berlangsung dan produksi padi terganggu akibat banjir.(day)

