Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi, saat menerima Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia, Abdul Kadir Karding, Selasa (15/4).(Foto Ist)
| |

Gubernur Ahmad Luthfi Siapkan Role Model Perlindungan Pekerja Migran

SEMARANG[BahteraJateng] – Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi akan menyiapkan role model untuk kabupaten/kota dalam hal pengurusan dan perlindungan Pekerja Migran Indonesia (PMI), mengingat tingginya jumlah PMI asal Jateng yang menjadi penyumbang devisa signifikan bagi daerah.

“Saya sudah perintahkan Dinas Ketenagakerjaan untuk membuat role model pendampingan dan pelatihan. Harus ada penyelarasan mulai dari rekrutmen sampai pemberangkatan PMI,” ujar Luthfi saat menerima Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia, Abdul Kadir Karding, di kantornya, Selasa (15/4).

Berdasarkan data 2024, jumlah PMI asal Jawa Tengah mencapai 66.611 orang, sementara hingga Maret 2025 tercatat 14.361 orang. Sembilan kabupaten dengan angka tertinggi yaitu Cilacap, Kendal, Brebes, Pati, Grobogan, Banyumas, Sragen, Kebumen, dan Sukoharjo.

PMI asal Jateng umumnya ditempatkan di enam negara utama: Hongkong, Taiwan, Malaysia, Korea Selatan, Jepang, dan Singapura. Beberapa juga dikirim ke Jerman dan negara lainnya.

Gubernur menekankan pentingnya sinergi antar daerah agar pengurusan PMI seragam dan pengawasan lebih mudah, guna mencegah penipuan dan penyelewengan.

“Pak Menteri juga mengingatkan agar satu aplikasi digunakan bersama, supaya masyarakat mudah mengakses layanan kerja ke luar negeri secara legal dan aman,” katanya.

Sementara itu, Menteri Abdul Kadir Karding menyebut kunjungannya sebagai upaya konsolidasi untuk memperkuat penempatan PMI, khususnya tenaga kerja level medium skill ke atas.

Ia menyoroti pentingnya pelatihan berkualitas agar pekerja migran tidak hanya mendapat manfaat ekonomi, tetapi juga transfer knowledge dan keterampilan.

Ia juga mendorong agar pemerintah daerah segera membuat regulasi dan membentuk struktur khusus untuk mengurusi PMI.

“Selama ini, sekitar 95 persen PMI berangkat lewat jalur tidak resmi. Ini yang menyebabkan banyak kasus kekerasan, eksploitasi, hingga perdagangan manusia,” tegasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *