Gus Umar: Cagub Jateng Andika Perkasa Berpesan Jangan Susahkan Orang Lain

BREBES[BahteraJateng] – Ketua Tim Pemenangan Pasangan Calon (Pas llon) gubernur – wakil gubenur Jawa Tengah nomor urut 1, KH Dr Umah Wahid Hasyim (Gus Umar) mengajak kepada masyarakat untuk memilih Andhika Perkasa – Hendrar Prihadi (Andika-Hendi) dalam pemilihan gubernur (Pilgub) yang dijadwalkan akan dilaksanakan 27 November mendatang.

“Kenapa milih pak Andhika, komitmen beliau dengan saya kalau jadi gubenur Jateng nanti tidak akan menyusahkan orang lain, demikian juga saat proses pencalonan dan pemilihan,” kata Gus Umar.

Gus Umar yang juga adik presiden RI ke-4 , Gus Dur mengatakan hal itu dalam Ngaji Kisah Inspiratif Keluarga KH Wahid Hasyim Asy’ari Bersama KH Dr Umar Wahid Hasyim, Sp.P ( aduk Gus Dur) bersama masyarakat dan santri di Pondok Pesantren Darussuada Bandar Kawung Brebes, Rabu (6/11/2024)

Menurutnya, komitmen untuk tidak menyusahkan orang lain itu sejalan dengan pesan dan pelajaran yang diberikan nyai Sholehah Wahid Hasyim (ibunya Gus Dur) dalam mendidik anak-anaknya ketika bertindak sebagai single parent karena ditinggal KH Abdul Wahid Hasyim yang meninggal dunia dalam usia yang masih muda (39 tahun).

Bu nyai Wahid Hasyim, lanjutnya selalu mengajarkan kepada anak-anaknya dalam menjalani hidup kalau bisa justru harus bisa memberikan manfaat kepada orang lain.Karena itu pergaulannya harus luas, salah satunya berkegiatan dalam organisasi. Pesan ini dijalankan oleh Gus Dur yang aktif di NU, Dewan Kesenian Jakarta, forum demokrasi, dan PKB.

Sedang Gus Sholah (Ir Sholahudin Wahid), lanjutnya aktif di NU dan organisasi profesi insinyur, sedangkan dirinya juga aktif di organisasi profesi dokter. Dengan demikian wawasan , persatuan dan pergaulannya semakin luas.

“Ayah saya Bapak Kyai Abdul Wahid Hasyim wafat dalam usia yang masih muda, 39 tahun. Kami berenam sebagai putra-putrinya kemudian diasuh ibu saya, Nyai Sholihah. Beliau memberikan kepercayaan kepada putra putrinya untuk berdiskusi dan berbeda pendapat serta meyakini pendapatnya benar. Namun pada saat yang sama harus menghargai pendapat lainnya”, kenang Gus Umar.

Dia menambahkan, saat kiai Wahid meninggal, nyai Solehah sedang mengandung, sebagian keluarga berinisiatif meringankan bebannya dengan mengasuh anak-anaknya,namun tawaran itu tidak diterima karena nyai Wahid ingin mengasuh anak-anaknya langsung sebagaimana wasiat kiai Wahid.

Untuk biaya hidup, ujarnya, nyai Wahid berjualan beras dan kebutuhan pokok lainnya. Hasilnya,
dipergunakan untuk membiayai pendidikan putra-putrinya. Pesan kiai Wahid kepada nyai Wahid, putra-putrinya tidak harus jadi kyai semuanya. Diharapkan ada yang menjadi insinyur dan dokter.

“Kakak saya Gus Dur dididik di pondok pesantren yang satu ke pesantren lainnya sehingga ia menjadi Kyai. Sedang Kakak saya yang satu, Gus Sholah memilih menjadi insinyur. Tinggal saya tidak bisa memilih kecuali harus menjadi dokter. Dan tahun 1969 saya berhasil lulus dan yg menjadi dokter spesialis penyakit dalam”, ujarnya.

Dikatakan kalau nanti Andika terpilih sebagai gubernur Jateng, maka masyarakat diminta untuk mengawal komitmennya agar tidak menyusahkan warganya.(sun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *