Moh Zainul Wafiq
Guru Asal Mijen Demak yang tergabung SOC 34 - Kabupaten Demak, Moh Zainul Wafiq bersama Tim Media Center Haji (MCH) 2026, Ahsan Fauzi.(Dok. MCH/AF)

Ketekunan Menabung Bawa Guru Asal Demak Naik Haji, Wujudkan Mimpi Menjadi Tamu Allah

JEDDAH[BahteraJateng] – Di balik senyum Moh Zainul Wafiq saat menginjakkan kaki di Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah, tersimpan kisah panjang tentang kesabaran, disiplin, dan keyakinan. Guru asal Mijen, Kabupaten Demak, yang tergabung dalam Kloter SOC 34 itu akhirnya berhasil menunaikan ibadah haji setelah menabung selama kurang lebih 13 tahun.

Bagi Wafiq, perjalanan menuju Tanah Suci bukan sekadar soal mengumpulkan biaya. Setiap rupiah yang disisihkan merupakan bagian dari ikhtiar yang ia bangun sedikit demi sedikit di tengah aktivitasnya sebagai tenaga pendidik. Selama bertahun-tahun, ia menjaga komitmen untuk tidak berhenti menabung, sembari meyakini bahwa pada waktunya Allah SWT akan memanggilnya.

Rasa syukur itu pun tak mampu disembunyikan ketika ia mengenang momen berhaji tahun ini. Menjadi tamu Allah merupakan impian yang akhirnya terwujud setelah penantian panjang.

“Alhamdulillah, setelah kurang lebih 13 tahun menabung, tahun ini Allah SWT memberikan kesempatan kepada saya untuk menunaikan ibadah haji. Semoga Allah menerima ibadah kami dan menjadikannya haji yang mabrur,” tuturnya, baru-baru ini.

Pengalaman tersebut mendorong Wafiq untuk berbagi semangat kepada rekan-rekan guru dan tenaga kependidikan. Menurutnya, keinginan berhaji tidak harus menunggu kondisi ekonomi benar-benar mapan. Yang terpenting adalah memulai langkah sejak dini dengan menyisihkan sebagian penghasilan secara rutin.

Ia juga mengingatkan bahwa tambahan penghasilan, termasuk tunjangan profesi bagi guru yang memenuhi syarat, dapat dimanfaatkan sebagai tabungan haji. Baginya, pengelolaan keuangan yang disiplin akan membantu mewujudkan cita-cita beribadah ke Tanah Suci.

“Jangan menunggu sampai nanti. Mulailah menabung dari sekarang sebagai ikhtiar menyambut panggilan Allah SWT,” pesannya.

Kisah Wafiq menjadi bukti bahwa mimpi besar tidak selalu diwujudkan dengan langkah besar. Justru dari kebiasaan sederhana—menyisihkan sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun—lahir sebuah perjalanan spiritual yang sangat berarti. Di tengah kesibukannya mendidik generasi muda, ia menunjukkan bahwa ketekunan, kesabaran, dan keyakinan mampu mengantarkan seseorang memenuhi panggilan ke Baitullah.

Semoga cerita ini menjadi pengingat bahwa setiap ikhtiar yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan menemukan waktunya. Sebab, panggilan ke Tanah Suci memang datang dari Allah, tetapi ikhtiar untuk menyambutnya dapat dimulai dari hari ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *