Jamasan Lontar di Rembang
Jamasan Lontar di Desa Pedak, Kecamatan Sulang, Rembang.(Dok. AR)

Jamasan Lontar Sambung Benang Sejarah: Satu Daun, Satu Cerita, Satu Generasi

REMBANG[BahteraJateng] – Desa Pedak, Kecamatan Sulang, yang beberapa waktu lalu melaksanakan jamasan lontar, pohon lontar bukan sekadar tanaman. Warga menyebutnya “bogor” serta memberinya julukan ‘Desa 1000 Bogor’ pada kampung ini.

Sutejo, budayawan lokal penggagas acara menyampaikan bahwa jamasan lontar merupakan ritual sederhana mencuci dan merawat daun lontar, tapi maknanya dalam.

“Ini ikhtiar kita mengingatkan, bahwa dari daun inilah dulu bangsa kita melek literasi. Dulu, sebelum kertas, orang Nusantara menulis babad, kakawin, hingga wedhasmerti di atas kropak lontar. Dari sanalah sejarah kita terbaca,” ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Desa Pedak, Nasukha mengungkapkan bahwa saat ini fungsi lontar bergeser. Air niranya disadap jadi legen, badeg, juruh, hingga gula merah khas Rembang. Tapi yang menyadap kian sedikit.

“Kini tinggal 65 penderes. Anak muda sudah tidak ada yang mau,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa saat kemarau nira justru melimpah, dan saat hujan produksinya malah menurun, dan nilai ekonominya pun masih jalan di tempat.

Karena itu, Achmad Rif’an, aktivis lingkungan yang dijuluki ‘the specialist one’, melempar ide-ide segar.

“Mulai dari BPJS Ketenagakerjaan untuk penderes, varian rasa gula siwalan, sampai wacana Museum Lontar di Pedak. Isinya sederhana, alat pengropak, replika manuskrip, cerita tentang bogor,” ujarnya pada bahterajateng, Selasa (21/7).

Menurutnya, saat ini dibutuhkan riset untuk menjadikan bibit tanaman lontar menjadi genjah. Karena masa tunggu 30 tahun terlalu lama.

Jamasan kali ini juga jadi panggung lintas generasi dengan geguritan, tari, wayang wala keling, serta teatrikal dari Arief Ponco dan Unen-Unen Rengel.

Sejarawan Danang Swastika, memberikan wejangan bahwa lontar isinya ajaran moral.

“Jamasan ini juga untuk menjamas hati kita. Biar tidak iri, tidak gampang diadu domba,” ujarnya.

Di Rembang, nama-nama desa seperti Bogorame, Talbaya, Badeg masih ada. Tapi pohonnya banyak yang hilang. Lewat Jamasan Lontar, warga Pedak mencoba menyambung lagi benang sejarah itu. Satu daun, satu cerita, satu generasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *