Kampung Tambakrejo
Rumah Nur Cholis (54), warga RT 7 RW 1 Kelurahan Tambakrejo.(Foto Ist)

Jeritan Warga Tambakrejo, Kampung Langganan Terendam Banjir di Musim Hujan

SEMARANG[BahteraJateng– Warga Kelurahan Tambakrejo, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang kembali harus menghadapi banjir yang merendam permukiman mereka di musim hujan kali ini. Ketua RT 7 RW 1 Kelurahan Tambakrejo, Nur Chadlir, menyebut sekitar 50 kepala keluarga (KK) terdampak genangan air yang tak kunjung surut.

“Rata-rata rumah warga sudah ditinggikan, tapi tetap kemasukan air. Beberapa rumah yang tidak mampu meninggikan jadi langganan terendam setiap tahun,” ujarnya saat ditemui di lokasi pengobatan gratis NU Peduli yang digelar LPBI NU Kota Semarang di serambi Masjid Besar Terboyo pada Rabu (5/11).


Menurutnya, kerusakan paling banyak dialami pada perabot rumah tangga yang terendam air. “Ada juga rumah yang kondisinya sudah tidak layak dan perlu bantuan program bedah rumah,” imbuhnya.

Nur Chadlir menilai, kebijakan pembangunan Tol Tepi Laut atau Giant Sea Wall perlu dievaluasi karena memengaruhi aliran air di wilayah pesisir.


“Air dari permukiman tidak bisa mengalir ke laut karena terhalang pagar tol, sedangkan ke sungai Banjir Kanal Timur juga tidak bisa karena posisinya lebih tinggi,” jelasnya.

Ia mengakui sempat ada perbaikan saat kepemimpinan Wali Kota Hendrar Prihadi, melalui pengerukan sungai dan penambahan pompa, namun kini banjir justru bertahan lebih lama.

“Biasanya dua sampai empat hari surut, sekarang bisa lebih dari seminggu,” ujarnya.

Salah satu warga, Ngatini (62), yang tinggal sendirian di rumah rendah dari permukaan jalan, mengaku pasrah setiap kali air masuk ke rumahnya. Sementara warga lain, Nur Cholis (54), bersama istri dan tiga anaknya juga harus menanggung dampak serupa.

Ketua LPBI NU Kota Semarang, dr. Muhammad Hayyi Wildani, berharap pemerintah lebih serius memperhatikan kondisi warga Tambakrejo.

“Saya juga warga sini, dan tiap tahun kami selalu jadi korban banjir. Pemerintah perlu bekerja sama dengan kelompok masyarakat seperti LPBINU untuk mencari solusi jangka panjang,” tegasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *