Arvin Tailor
Muarifin, owner Arvin Tailor dan Azvi Tailor.(BahteraJateng)
|

Kisah Inspiratif Arvin Tailor, Dari Ngamen hingga Jadi Penjahit Profesional

SEMARANG[BahteraJateng] – Hidup terkadang berputar begitu cepat. Siapa sangka, dari seorang pengamen yang sempat kehilangan arah, Muarifin (36) kini menjelma menjadi penjahit profesional Arvin Tailor langganan sejumlah instansi besar di Semarang, mulai dari Dinas Pendidikan hingga Puskesmas.

Pria kelahiran Demak pada 6 Juni 1988 ini memulai kisahnya sekitar tahun 2007, saat merantau dari kampung halamannya di Wedung Demak ke Yogyakarta. “Dulu itu gabut, pernah ngamen juga,” kenangnya sambil tertawa kecil. Dalam masa-masa sulit itu, tak disangka, ia bertemu dengan seseorang yang mengubah jalan hidupnya.


“Ada orang baik yang nolongin, disekolahkan, dididik lima bulan. Beliau punya toko jahit, jadi saya diajarin dari nol,” kata Arfin sapaan akrabnya.

Selama masa pelatihan itu, ia bukan hanya belajar menjahit, tapi juga melayani pelanggan dan menerima pesanan. Dari situ, minatnya pada dunia jahit mulai tumbuh kuat.


Lulus dari pelatihan singkat tersebut, Arfin akhirnya membuka usaha sendiri di Damar Wulan, Karangayu, Semarang Barat, Kota Semarang sekitar tahun 2012. “Orderan pertama dari Bu Ernes, beliau dari Dinas Pendidikan Provinsi,” ujarnya. Sejak saat itu, namanya mulai dikenal. Promosi sederhana dari mulut ke mulut membuat usahanya terus berkembang.

Kini, ia mempunyai dua cabang yaitu Azvi Tailor beralamat Jl Pekunden Tengah dan Arvin Tailor di Jl Jolotundo 2, dan dikenal sebagai tempat jahit pria wanita yang serba bisa—mulai dari jas, blazer, kebaya, gamis, hingga celana dan rok. Ia dibantu empat karyawan tetap, namun jumlah itu bisa bertambah saat pesanan membludak. “Kalau banyak orderan, saya tambah tenaga harian. Biasanya sistem borongan,” jelasnya.

Salah satu ciri khas Arfin adalah kemampuannya menerima pesanan kilat. “Pernah ada yang pesan dua jas sehari harus jadi. Order malam jam tujuh, diambil besok sore jam empat,” tuturnya.

Dalam kasus seperti itu, Arfin rela lembur hingga dini hari. “Kalau sudah ada contoh bajunya, saya bisa kerja cepat. Satu jas itu sekitar lima sampai enam jam.”

Dari pengalaman bertahun-tahun, Arfin banyak melayani pesanan dari instansi pemerintahan seperti Dinas Pendidikan, Kantor Pajak, hingga PT Matahari Kacang. Ia juga pernah mengerjakan pakaian khusus untuk tokoh masyarakat yang butuh baju dalam waktu singkat menjelang pelantikan.

Menariknya, meski usaha jahitnya semakin maju, Arfin tetap sederhana dalam memasarkan diri. Ia belum menggunakan Instagram atau TikTok untuk promosi. “Saya lebih nyaman pakai Facebook. Kalau butuh karyawan juga saya iklan di sana. Banyak yang kenal dari situ,” katanya.

Kini, setelah lebih dari satu dekade berkecimpung di dunia jahit, Arfin ingin usahanya terus berkembang dan membuka lebih banyak cabang. “Yang penting kerja jujur, hasilnya bagus, pelanggan pasti balik lagi,” ucapnya mantap.

Dari pengamen jalanan menjadi penjahit profesional, kisah Arfin adalah bukti bahwa kesempatan bisa datang dari mana saja — asalkan ada kemauan untuk belajar dan tidak menyerah pada keadaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *