Pendaki Gunung Muria
Abdul Ghofur (kiri berpakaian serba hitam), ketua Difabel Blora Mustika (DBM) saat mendaki puncak 29 Gunung Muria.(Dok. DBM)

Kisah Penyandang Disabilitas Amputasi Kedua Kaki Mendaki Puncak 29 Gunung Muria

KUDUS[BahteraJateng] – Kabut tipis masih menyelimuti lereng Gunung Muria saat langkah demi langkah mulai ditempuh mendaki Puncak 29 Gunung Muria, Minggu (12/7). Jalur yang menanjak, bebatuan licin, dan udara pegunungan yang dingin menjadi tantangan bagi setiap pendaki. Namun, bagi Abdul Ghofur, tantangan itu memiliki makna yang jauh lebih besar.

Pria yang menjabat sebagai Ketua Difabel Blora Mustika (DBM) itu merupakan penyandang disabilitas akibat amputasi kedua kaki. Kondisi tersebut tidak membuatnya mengurungkan niat untuk mencapai puncak setinggi 1.602 meter di atas permukaan laut itu. Dengan tekad kuat dan dukungan rekan-rekannya, ia terus melangkah hingga akhirnya berdiri di Puncak Songolikur.

Bagi Ghofur, pendakian ini bukan sekadar perjalanan menuju titik tertinggi Gunung Muria. Ada pesan yang ingin ia sampaikan kepada banyak orang, terutama penyandang disabilitas.

“Niat saya bukan hanya mencapai puncak, tetapi membuktikan bahwa penyandang disabilitas mampu menaklukkan tantangan sebesar apa pun jika memiliki tekad, keberanian, dan dukungan,” ujarnya.

Kalimat itu lahir dari pengalaman nyata. Setiap tanjakan yang dilewati menjadi simbol perjuangan menghadapi keterbatasan. Setiap langkah menjadi bukti bahwa kekuatan seseorang tidak hanya diukur dari kondisi fisiknya, melainkan dari semangat untuk terus bergerak maju.

Perjalanan menuju Songolikur juga menghadirkan pengalaman yang berbeda bagi Ghofur. Menurutnya, Gunung Muria bukan hanya menyuguhkan panorama alam yang indah, tetapi juga menyimpan nilai sejarah, budaya, dan spiritual yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Keberhasilan mencapai puncak pun disambut bangga oleh keluarga besar Difabel Blora Mustika. Sekretaris DBM, Arif Rahman, menilai pencapaian tersebut merupakan simbol bahwa penyandang disabilitas memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk berkegiatan di berbagai bidang, termasuk menjelajahi alam bebas.

“Tidak ada kata menyerah. Batas sesungguhnya bukan pada tubuh, melainkan pada kemauan. Bersama, kita buktikan bahwa penyandang disabilitas mampu menggapai impian,” kata Arif.

Pendakian ini menjadi lebih dari sekadar catatan perjalanan. Ia menjelma menjadi pesan tentang keberanian melawan rasa takut, keyakinan untuk terus mencoba, dan pentingnya dukungan dari lingkungan sekitar.

Di atas Puncak Songolikur, Ghofur mungkin hanya menjadi satu dari sekian banyak pendaki yang menikmati hamparan pegunungan Muria. Namun, kisah yang ia bawa turun memiliki arti yang jauh lebih tinggi daripada puncak itu sendiri. Ia mengingatkan bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal untuk membuktikan bahwa mimpi tetap bisa diraih.

Sebab, sejatinya puncak tertinggi bukanlah Songolikur. Puncak tertinggi adalah ketika seseorang mampu mengalahkan keraguan dalam dirinya sendiri dan terus melangkah, apa pun keterbatasan yang dimiliki.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *