Kita (Indonesia) Lebih Unggul dari Jepang ?!
Oleh: Dr. dr. Eko Setiawan Sp.B, FINACS
Inferiority atau merasa lebih rendah diri tentu tidak sama dengan kerendahan hati. Barangkali kita terlalu memuja negara lain termasuk Jepang. Padahal kehidupan itu ya sawang sinawang. Perspektif atau cara pandang lah yang menentukan. Cara kita melihat sesuatu juga ditentukan oleh pengalaman hidup dan arus informasi yang kita terima.

Maka patutlah hal yang dianggap baik mungkin bisa kita adopsi sementara yang buruk kita pelajari dan jauhi.
Waktu, kedisiplinan adalah budaya di Jepang. Berbeda dengan negara kita mungkin masih bisa dikompromikan. Tapi kedisplinan kadang identik dengan kekakuan. Keterlambatan satu menit mungkin akan fatal pada kasus tertentu, tapi kadang hidup dan waktu juga bukan sesuatu yang tidak bisa dinegosiasikan bukan? Disini toko makanan jika buka jam 7 pagi maka sekalipun ada pelanggan yang datang jam 06.59 tidak akan dilayani. Di Indonesia lain cerita, ada pertimbangan lain mungkin yaitu rasa, pelanggan bisa kita layani karena mungkin dia perlu cepat atau mendesak dan tidak juga perlu sekaku itu.
Kepatuhan pada aturan menjadi bagian hidup sehari di Jepang. Dimana harus berdiri di pinggir jalan. Bagaimana harus mengantri. Bagaimana produk dibuat langkah demi langkah. Membuat hampir banyak produk Jepang mendekati perfect. Tapi itu dulu, mobil Jepang mulai kalah dengan pabrikan Tiongkok ataupun Eropa karena inovasi itu kadang harus menabrak norma dan batas.
Toko fashion didominasi oleh brand Amerika dan Eropa. Anak muda jepang tergila gila dengan apple dan turunannya. Mereka akhirnya harus berlutut pada penjajahan pola pikir dan stylish luar.
Kehidupan individual disini sangat menonjol. Kepo sepertinya tidak ada dikamus mereka. Ngerasani atau ghibah tetangga sepertinya juga malas. Di jalanan jarang ada percakapan atau tongkrongan. Waktu terasa terlalu cepat dan buru buru. Langkah kaki tidak lagi dinikmati tapi seperti terjadi sesuatu yang mengharuskan mereka datang dengan tergesa gesa. Slowly living yang ditulis dalam buku budaya Jepang seperti ikigai, wabi sabi, kaizen tidak terlihat di tokyo. Atau barangkali di pedesaan lebih baik saya juga tidak tahu.
Budaya Jepang sangat tegas dan rigid. Tulisan di tempat umum dan publik semua dengan aksara Jepang. Rasanya arogan sekali jika di stasiun dan bandara kurang tersedia bahasa Internasional lain. Di hotel dan toko pun sulit rasanya berkomunikasi, untungnya google translate banyak membantu.
Jepang sepertinya terdiri hanya dari ras mereka dan murni. Beda dengan Indonesia yang satu Sumatera saja bahasa bisa ratusan dan ragam norma dan adatpun bisa kontradiksi satu dengan yang lain. Kita lebih permisif dan bisa menerima budaya grey abu abu dan akulturasi berjalan dengan baik di Indonesia.
Saya tidak tahu Tuhannya orang Jepang. Sepertinya mungkin hamba pekerjaan. Religiusitas disini sebatas budaya saja.
Jauh dari nilai ketuhanan. Kepatuhan pada aturan dilandasi oleh ketatnya aturan dan batas yang mengatur. Kalau Indonesia sepertinya terlalu religius sehingga apapun itu sering dikaitkan dengan mistikus dan pandangan rasa yang subyektif.
Barangkali sulit bagi kita menyimpulkan mana yang lebih baik. Tapi Aku tetap bangga menjadi Indonesia. Tanah air beta. Tumpah darah. Tempat berlindung di hari tua. Tempat akhir menutup mata.
Ditulis diatas pesawat Tokyo- Fukuoma 4 september 2024.
(Dr. dr. Eko Setiawan Sp.B, FINACS adalah peneliti dibidang stem sel dan regenerasi)

