Mampu Tangkap Peluang Potensi Desa, Anyaman Bambu Blora Tembus Pasar Malaysia
BLORA[BahteraJateng] – Kemampuan Dian Agus Yulianto (36) asal Desa Kedungsatrian, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Blora dalam menangkap peluang usaha dari potensi desanya yang banyak tumbuh tanaman bambu, membuahkan hasil. Usaha anyaman bambu yang dirintisnya bersama keluarga sejak enam tahun lalu, tepatnya awal pandemi Covid-19, mampu merambah pasar Malaysia.
Disela-sela kegiatan kesehariannya sebagai Security disalah satu perusahaan meubel, dia menceritakan awal usahanya.
“Saya kerja sebagai Satpam sudah enam belas tahun, waktu itu punya usaha sampingan jualan pentol bakso keliling disaat lagi off ke sekolah-sekolah. Saat itu pandemi Covid-19. Sekolah banyak yang libur. Saya berfikir, ekonomi keluarga harus tetap berputar. Saya melihat banyak tetangga yang produksi besek (wadah nasi terbuat dari anyaman bambu) yang jarang laku,” ujar Dian kepada BahteraJateng, Selasa (2/6).
Melihat potensi yang ada disekitar tempat tinggalnya, Dian berusaha membantu memasarkan produk tetangga melalui media sosial miliknya.
“Alhamdulillah, mulai ada peningkatan penjualan. Awalnya besek tidak begitu laku. Semenjak saat itu, saya bersama keluarga besar membangun usaha anyaman bambu untuk menambah penghasilan,” lanjut Dian.
Perjalanan usahanya mulai tampak berkembang, dan para tetangga mulai memiliki keinginan untuk bergabung dalam usaha anyaman bambu.
“Awalnya saya gabung dengan salahsatu usaha industri kreatif di Blora Kota, atas saran dari berbagai pihak, akhirnya kami sepakat membentuk Kelompok Tani Hutan Barokah Bambu dengan anggota sekitar 35 orang aktif, dan saya sering diajak oleh Cabang Dinas Kehutanan Wilayah I Jawa Tengah mengikuti pelatihan, pameran, dan seminar, sehingga makin dikenal,” tuturnya.
Ditempat terpisah, Sukemi orangtua Dian menuturkan bahwa usaha anyaman bambu yang dijalankan Dian berjalan lancar karena tingginya permintaan pasar.
“Usaha anyaman ini dimulai sejak awal tahun 2020. Saya sebelumnya kerja di meubel antikan di Bali. Karena anak punya usaha, dan ingin bantu mengembangkan, melalui keterampilan yang saya miliki sebagai tukang kayu, akhirnya saya pulang bantu dalam tekhnik pembuatan produk tanpa menggunakan paku sama sekali, Alhamdulillah permintaan pasar tinggi,” ungkapnya.
Lebih lanjut Sukemi menjelaskan bahwa ditempat produksinya sekaligus sekretariat KTH Barokah Bambu tidak memiliki stock barang anyaman.
“Disini tidak ada stock mas, semuanya ini adalah pesanan. Lebaran Iduladha kemarin sampai kuwalahan. Kalau njenengan lihat ada berbagai macam produk, itu semua pesanan yang belum sempat dikirimkan,” pungkas Sukemi.(day)

