Mengapa Generasi Muda Mengabaikan Bahasa Indonesia?
Oleh Nia Samsihono
Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional memiliki peran yang sangat penting dalam membangun identitas kebangsaan dan persatuan. Namun, di era globalisasi saat ini, semakin banyak generasi muda yang terlihat mengabaikan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran tentang kelangsungan dan kualitas penggunaan bahasa Indonesia di masa depan.
Salah satu alasan utama mengapa bahasa Indonesia sering kali diabaikan oleh generasi muda adalah maraknya penggunaan bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Seiring dengan perkembangan teknologi dan akses mudah ke informasi global, bahasa Inggris menjadi sangat dominan, terutama di media sosial, musik, film, dan konten digital. Bahasa Inggris dianggap sebagai bahasa internasional yang penting untuk kemajuan karier dan komunikasi di dunia global. Hal ini menyebabkan generasi muda lebih terfokus pada penguasaan bahasa Inggris daripada memperdalam kemampuan berbahasa Indonesia. Selain itu, budaya populer global, seperti film Hollywood, K-pop, dan gaya hidup barat, memberikan pengaruh besar terhadap gaya komunikasi generasi muda.
Mereka cenderung menggunakan bahasa campuran atau bahkan sepenuhnya menggunakan bahasa asing saat berkomunikasi, baik dalam percakapan langsung maupun di media sosial. Pengaruh budaya global ini membuat bahasa Indonesia terlihat kurang menarik dan tidak relevan bagi sebagian anak muda.
Generasi muda sering kali menganggap bahasa Indonesia sebagai sesuatu yang sudah “diberikan,” tanpa menyadari nilai strategis dan kultural yang dimilikinya. Kurangnya edukasi yang menekankan pentingnya menjaga dan mengembangkan bahasa Indonesia sebagai identitas nasional dapat menjadi salah satu penyebabnya. Mengapa kita tidak mengingat kata: “Bahasa menunjukkan Bangsa”? Di sekolah, pelajaran bahasa Indonesia mungkin dianggap kurang menarik dibandingkan dengan pelajaran bahasa asing yang dianggap lebih relevan dengan dunia internasional.
Selain itu, anggapan bahwa menguasai bahasa Indonesia tidak memberi dampak signifikan terhadap peluang karier juga menurunkan minat generasi muda dalam memperdalam bahasa nasional ini. Padahal, penggunaan bahasa yang baik dan benar sangat penting dalam dunia kerja, terutama dalam konteks komunikasi formal dan akademik di Indonesia. Marilah kita tinjau bersama bagaimana kinerja dan kompetensi guru Bahasa Indonesia selama itu?
Kita akui bahwa media sosial memiliki peran besar dalam membentuk bahasa dan cara komunikasi generasi muda saat ini. Mereka sering kali menggunakan bahasa gaul atau “slang” yang terpengaruh oleh tren populer. Penggunaan bahasa slang ini sering kali mencampuradukkan kata-kata dari berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia, Inggris, dan bahasa daerah. Hal ini menciptakan bentuk komunikasi yang tidak lagi mengutamakan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Namun, ini tetap perlu kita tanyakan bagaimana kiprah Guru Bahasa Indonesia dengan pengajaran ilmunya kepada generasi muda.
Bahasa asing, khususnya bahasa Inggris, sering kali dikaitkan dengan status sosial yang lebih tinggi. Dalam berbagai konteks, generasi muda mungkin merasa lebih “berkelas” atau lebih “terpelajar” jika menggunakan bahasa asing. Bahkan, dalam percakapan sehari-hari, penggunaan campuran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris (yang dikenal sebagai “bahasa gaul” atau “bahasa campuran”) menjadi tren yang umum di kalangan anak muda di kota-kota besar.
Penghargaan terhadap bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan tampaknya mulai memudar di kalangan generasi muda. Ini mungkin disebabkan oleh kurangnya kesadaran tentang pentingnya bahasa Indonesia dalam menjaga identitas nasional. Selain itu, metode pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah sering kali dianggap monoton dan tidak menarik, sehingga siswa cenderung merasa bosan dan tidak termotivasi untuk mendalami bahasa nasional mereka sendiri.
Dalam beberapa tahun terakhir, kurikulum pendidikan di Indonesia tampaknya lebih menitikberatkan pentingnya penguasaan bahasa asing, terutama bahasa Inggris, untuk menghadapi tantangan global. Bahasa Indonesia, meskipun tetap diajarkan, sering kali tidak mendapat perhatian yang sama seriusnya. Akibatnya, generasi muda cenderung menganggap bahasa Indonesia sebagai sesuatu yang “biasa saja” dan tidak memiliki nilai tambah yang signifikan dalam kehidupan mereka. Apa makna slogan “Utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, dan kuasai bahasa asing”? Slogan tersebut dibuat dengan tujuan untuk mendorong kemajuan pembelajaran bahasa asing di Indonesia tanpa melunturkan rasa cinta terhadap bahasa Indonesia yang merupakan identitas nasional bangsa dan melestarikan bahasa daerah yang menjadi bagian dari Indonesia.
Jika tren pengabaian terhadap bahasa Indonesia terus berlanjut, ada beberapa dampak negatif yang mungkin timbul. Pertama, identitas nasional bisa melemah karena bahasa Indonesia merupakan salah satu elemen penting yang mempersatukan bangsa ini. Kedua, penggunaan bahasa asing yang berlebihan dapat menciptakan kesenjangan sosial antara mereka yang menguasai bahasa asing dan mereka yang hanya menggunakan bahasa Indonesia. Ketiga, bahasa Indonesia bisa kehilangan keunikan dan kekayaan sastranya jika tidak lagi digunakan dan dihargai oleh generasi muda.
Ada beberapa langkah yang dapat diambil untuk mengembalikan kebanggaan generasi muda terhadap bahasa Indonesia. Pertama, pendidikan bahasa Indonesia perlu dirombak agar lebih menarik dan relevan dengan kehidupan sehari-hari anak muda. Metode pengajaran yang kreatif dan inovatif dapat membantu meningkatkan minat mereka. Kedua, pemerintah dan lembaga pendidikan perlu lebih aktif mempromosikan pentingnya bahasa Indonesia dalam menjaga identitas nasional. Ketiga, tokoh-tokoh publik, influencer, dan selebriti bisa menjadi contoh dalam menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, sehingga menjadi teladan bagi generasi muda.
(Nia Samsihono adalah Ketua Umum Satupena DKI Jakarta)

