Menulis untuk Generasi Z: Antara Kreativitas dan Kaidah Bahasa Indonesia
Oleh Nia Samsihono
Dalam dunia tulis-menulis, terutama untuk menjangkau generasi Z, sering kali muncul pertanyaan: apakah gaya penulisan harus menyalahi kaidah bahasa Indonesia demi menarik perhatian mereka?
Pertanyaan ini menyentuh isu yang sangat penting: apakah seorang penulis—terutama yang dianggap sebagai “guru” atau figur inspiratif—harus mengorbankan kaidah bahasa demi menarik perhatian generasi Z? Jawabannya bergantung pada tanggung jawab seorang penulis dalam membentuk karakter generasi muda dan menjaga identitas bangsa.
Salah satu tren yang banyak digunakan para penulis yang ingin menarik perhatian generasi Z adalah mencampur bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris dalam judul atau isi tulisan, seperti “Aku Perempuan, Maka Aku Dicancel.” Fenomena ini memunculkan perdebatan menarik tentang relevansi kaidah bahasa versus kebutuhan beradaptasi dengan pembaca muda.
Mengapa Bahasa Campuran Digemari Oleh Generasi Z?
Generasi Z tumbuh di era globalisasi dan teknologi yang memungkinkan mereka terpapar bahasa asing, terutama bahasa Inggris, sejak dini. Akibatnya, penggunaan istilah atau frasa bahasa Inggris menjadi bagian dari percakapan sehari-hari mereka.
Beberapa alasan utama bahasa campuran populer di kalangan generasi Z, antara lain tren dan gaya hidup modern. Bahasa Inggris dianggap lebih “kekinian” atau mencerminkan modernitas. Kata-kata seperti cancel, self-love, atau toxic sudah menjadi istilah yang terasa lebih relevan dan keren dibanding padanan dalam bahasa Indonesia.
Kadang, tidak semua istilah dalam bahasa Indonesia memiliki terjemahan yang langsung menggambarkan konteksnya. Istilah “dicancel,” misalnya, lebih padat dan langsung dipahami atau lebih bergengsi karena ada asing-asingnya daripada kata “dibatalkan”, “ditunda”. Kata toxic sudah diserap dengan penyesuaian tulisan menjadi toksik yang sinonim dengan kata bahasa Indonesia ‘racun’.
Kita semua mengerti bahwa bahasa adalah kesepakatan dan kebiasaan. Jika maknanya sudah kita pahami mengapa harus ada gengsi, mengapa harus berlindung di balik kemilenialan? Jika tidak menggunakan kata asing dianggap atau termasuk golongan kampung tidak modern, dan generasi purba.
Bahasa sebagai Identitas dan Martabat Bangsa
Bahasa adalah cerminan budaya, identitas, dan martabat suatu bangsa. Ketika para penulis atau figur publik mencampuradukkan bahasa Indonesia dengan bahasa asing secara tidak bertanggung jawab, ada risiko generasi muda kehilangan rasa cinta terhadap bahasa ibu mereka.
Jika para “guru” atau tokoh panutan lebih memilih gaya penulisan yang menyalahi kaidah demi dalih “menarik milenial, menarik generasi Z,” maka bahasa Indonesia akan terpinggirkan.
Anak muda akan semakin terbiasa menganggap bahasa Indonesia kurang “modern” atau kurang “keren,” sehingga penggunaan bahasa asing menjadi kebiasaan yang berlebihan.
Ketergantungan pada bahasa asing dapat melemahkan kemampuan anak muda dalam mengekspresikan diri dalam bahasa Indonesia, yang pada akhirnya berpengaruh pada identitas nasional. Selanjutnya situasi ini akan menurunkan martabat bangsa. Bahasa Indonesia yang telah diperjuangkan dan dimuliakan selama berabad-abad berisiko kehilangan statusnya sebagai lambang kebanggaan bangsa.
Kaidah Bahasa vs Kreativitas: Haruskah Melanggar?
Meskipun penggunaan bahasa campuran dapat menarik perhatian, penting untuk mempertimbangkan dampaknya terhadap perkembangan dan pelestarian bahasa Indonesia.
Menyalahi kaidah bahasa secara berlebihan dapat mengurangi keindahan berbahasa. Bahasa Indonesia memiliki tata aturan dan keindahan yang khas. Jika terlalu banyak dicampur, esensi tersebut bisa terkikis.
Hal berikutnya, dapat menciptakan kebingungan. Tidak semua pembaca memahami bahasa Inggris. Hal ini bisa menghambat aksesibilitas tulisan bagi sebagian orang. Namun, kreativitas dalam penulisan juga penting untuk menjangkau audiens tertentu.
Generasi Z cenderung menyukai hal-hal yang segar dan unik, termasuk dalam gaya penulisan. Keseimbangan antara kaidah bahasa dan kreativitas menjadi kunci utama.
Algoritma Media Digital
Judul yang ditulis dengan campuran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sering kali lebih menarik algoritma di platform media sosial, sehingga meningkatkan visibilitas artikel.
Apakah media sosial itu termasuk komunikasi lisan atau tertulis? Jika itu termasuk komunikasi lisan, mungkin ketika dijadikan sumber dalam artikel disebut komunikasi lisan. Namun, jika itu berupa artikel atau tulisan bertema tertentu, penulisannya harus mengacu kaidah penulisan bahasa Indonesia. Di dalam kaidah itu dinyatakan jika ada kata asing yang belum ada padanannya dalam bahasa Infonesia, penulisannya di cetak miring.
Judul seperti “Aku Perempuan, Maka Aku Dicancel” memang menarik perhatian, terutama bagi generasi Z yang sudah akrab dengan istilah-istilah dalam bahasa Inggris dan yang tidak dikuatkan pemahaman tentang kaidah penulisan dalam bahasa Indonesia oleh gurunya.
Judul sebaiknya tidak menggunakan bahasa Inggris atau bahasa campuran. Kata asing yang digunakan dalam judul itu kata yang belum ada padanannya dalam bahasa Indonesia, atau istilah, atau nama, misalnya Big Data, yoghurt, kosmetik Make Over, dan lainnya. Judul yang memadukan bahasa dengan baik dan tidak berlebihan tetap bisa mengikuti kaidah penulisan dalam bahasa Indonesia sekaligus menarik perhatian.
Bagaimana Sebaiknya Penulis Menyikapi Hal Ini?
Untuk tulisan yang menarik namun tetap memperhatikan kaidah bahasa, penulis dapat menggunakan kata-kata asing secara selektif. Gunakan istilah bahasa Inggris hanya jika benar-benar sulit menemukan padanan yang pas dalam bahasa Indonesia. Sebagus apa pun judulnya, isi tulisan adalah yang paling penting. Konten yang relevan dan bermakna akan tetap menarik, terlepas dari gaya bahasanya. Penulis bisa mencoba menciptakan istilah atau gaya penulisan baru yang segar namun tetap dalam koridor bahasa Indonesia.
Tanggung Jawab Penulis untuk Mengarahkan Generasi Z
Seorang penulis memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi panutan, termasuk dalam penggunaan bahasa. Jika tujuannya adalah mendidik generasi muda, maka penulis harus mengutamakan ketaatan pada kaidah bahasa. Menulis dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar menunjukkan penghargaan terhadap bahasa itu sendiri. Lewat tulisan, penulis dapat menginspirasi generasi Z untuk mencintai bahasa Indonesia tanpa harus meninggalkan kemampuan berbahasa asing atau bahasa daerah. Penulis dapat memahami tren generasi Z tanpa harus tunduk pada praktik yang merusak kaidah.
Generasi Z sebenarnya tidak harus diarahkan untuk memilih antara bahasa Indonesia, bahasa asing, atau bahasa daerah. Sebaliknya, mereka perlu didorong untuk menguasai ketiganya dengan seimbang. Bahasa Indonesia sebagai fondasi identitas dan kebanggaan nasional. Bahasa asing sebagai alat komunikasi global dan peningkatan daya saing di dunia internasional. Bahasa daerah sebagai warisan budaya yang memperkaya keberagaman bangsa.
Keseimbangan ini bukanlah hal mustahil. Generasi muda yang diberikan arahan yang tepat akan mampu menjunjung tinggi bahasa Indonesia sambil tetap menguasai bahasa asing dengan baik.
Apakah Bahasa Campuran Selalu Salah?
Penggunaan bahasa campuran sebenarnya tidak sepenuhnya salah, asalkan dilakukan secara tepat. Ada kalanya penulis menggunakan istilah asing karena memang belum ada padanan yang pas dalam bahasa Indonesia atau karena istilah tersebut lebih kontekstual. Namun, penggunaan yang berlebihan atau asal-asalan justru menciptakan kebingungan dan merusak struktur bahasa.
Contoh:
• Salah: “Aku merasa sangat toxic di lingkungan ini.”
• Benar: “Aku merasa sangat tidak sehat di lingkungan ini, seperti terpapar toxic secara emosional.”
Pada contoh kedua, penggunaan istilah asing dijelaskan dalam konteks bahasa Indonesia sehingga pembaca tetap memahami maknanya tanpa kebingungan.
Seorang penulis yang bertindak sebagai “guru” bagi generasi Z tidak seharusnya mengorbankan kaidah bahasa hanya demi menarik perhatian. Sebaliknya, mereka harus menjadi penjaga bahasa yang mengarahkan anak muda untuk mencintai dan memuliakan bahasa Indonesia.
Penulis dapat tetap kreatif dan relevan tanpa harus menyalahi kaidah. Dengan menulis dalam bahasa Indonesia yang baik, memberikan teladan, dan menyisipkan nilai-nilai cinta bahasa, mereka bisa membantu milenial menjadi generasi yang berwawasan global sekaligus bangga pada identitas kebangsaannya.
(Nia Samsihono adalah Ketua Umum Satupena DKI Jakarta dan Ketua Komunitas Perempuan Bahari)

