Mercusuar Willem’s Toren III, Jejak Cahaya Bersejarah di Ujung Barat Indonesia
Oleh: Djoko Setijowarno
Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia, namun perhatian kita terhadap pulau-pulau terluar sering kali redup, seperti cahaya mercusuar yang mulai meredup karena usia. Salah satu simbol yang paling nyata dari keberadaan negara di batas barat Nusantara adalah Mercusuar Willem’s Toren III di Pulau Breueh (Pulau Beras), Kecamatan Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar.
Berdiri kokoh di atas bukit cadas setinggi 310 meter di atas permukaan laut, mercusuar ini telah lebih dari seabad memancarkan cahaya bagi keselamatan pelayaran di Selat Malaka dan Samudra Hindia.
Namun, Willem’s Toren bukan sekadar menara suar. Ia adalah penanda peradaban, saksi bisu sejarah kolonial, sekaligus mercusuar identitas Indonesia sebagai bangsa maritim. Sayangnya, nilai sejarah dan potensi pariwisata mercusuar ini belum mendapatkan perhatian yang sebanding dengan maknanya. Di tengah derasnya modernisasi sistem navigasi maritim, dari GPS hingga radar satelit, keberadaan mercusuar masih memiliki arti penting — baik sebagai sarana bantu navigasi pelayaran (SBNP) maupun simbol kontinuitas sejarah maritim bangsa.
Distrik Navigasi (Disnav) Kelas II Sabang di bawah Direktorat Jenderal Perhubungan Laut menjadi pihak yang mengelola mercusuar ini. Wilayah kerjanya mencakup hampir dua pertiga perairan Aceh, mulai dari Simeulue hingga Sabang, serta pulau-pulau terdepan seperti Pulau Rondo dan Pulau Benggala. Tugas mereka bukan sekadar menjaga nyala lampu, tetapi memastikan keselamatan kapal yang melintas, terutama di jalur internasional yang padat dan rawan kecelakaan.
Mercusuar memiliki tiga fungsi utama: sebagai penanda lokasi, peringatan bahaya, dan pemandu kapal menuju pelabuhan. Di malam hari atau cuaca buruk, pola kedip cahaya mercusuar menjadi panduan vital bagi pelaut. Dalam konteks ini, Willem’s Toren III adalah nadi keselamatan bagi kapal yang melintasi perairan paling barat Indonesia.
Namun, mercusuar ini juga menyimpan kisah sejarah yang menggugah. Dibangun pada tahun 1875 oleh pemerintah kolonial Belanda dan dinamai dari Raja Willem Alexander Paul Frederik Lodewijk, menara ini merupakan satu dari tiga mercusuar serupa di dunia — dua lainnya berada di Belanda dan Kepulauan Karibia. Fakta ini menunjukkan betapa pentingnya posisi strategis Pulo Aceh dalam jaringan maritim kolonial masa itu.
Proses pembangunannya tidak mudah. Dalam catatan sejarah “Onze Vestiging in Atjeh” karya Mayor Jenderal G.F.W. Borel, disebutkan bahwa proyek ini mendapat perlawanan sengit dari para pejuang Aceh di bawah pimpinan Teungku Chik di Tiro. Belanda harus mengerahkan pasukan tambahan dan mempekerjakan ratusan pekerja dari berbagai daerah, termasuk dari Ambon. Mercusuar ini, dengan demikian, tidak hanya menjadi simbol kekuasaan kolonial, tetapi juga saksi perjuangan rakyat Aceh mempertahankan kedaulatan tanah air.
Kini, lebih dari 150 tahun kemudian, Willem’s Toren III masih tegak berdiri, menantang waktu. Namun, tantangannya kini bukan lagi perang atau kolonialisme, melainkan ketertinggalan infrastruktur dan minimnya akses. Untuk mencapai mercusuar, pengunjung harus menempuh perjalanan laut 3–4 jam dari Banda Aceh atau Sabang, kemudian melanjutkan perjalanan darat sejauh 30 menit melewati jalan menanjak dan berkelok. Dermaga di Ujong Peuneung belum mampu disandari kapal besar, sehingga penumpang harus berpindah ke perahu kecil sebelum tiba di daratan.
Kondisi ini membuat Pulau Breueh masih sulit dijangkau wisatawan, padahal potensinya luar biasa besar. Dengan pemandangan Samudra Hindia yang luas, hutan tropis yang rimbun, dan pantai berpasir putih, pulau ini memiliki daya tarik alam yang menyaingi destinasi wisata kelas dunia. Willem’s Toren III dapat menjadi magnet wisata sejarah dan edukasi maritim, jika diintegrasikan dengan kebijakan pengembangan pariwisata berkelanjutan dan penguatan infrastruktur dasar.
Langkah konkret perlu dilakukan. Pertama, perpanjangan Dermaga Ujong Peuneung agar kapal motor atau kapal cepat dapat merapat langsung ke pulau. Hal ini akan memangkas waktu tempuh hingga 50 persen dan memudahkan logistik petugas mercusuar maupun wisatawan. Kedua, perbaikan jalan menuju mercusuar agar aman dan nyaman dilalui, terutama karena jalur menanjak sering kali rusak akibat curah hujan tinggi. Ketiga, penyediaan moda transportasi lokal yang terjadwal, seperti shuttle pick-up atau motor wisata, akan meningkatkan mobilitas pengunjung.
Selain itu, pemerintah daerah bersama pihak swasta dapat mengembangkan fasilitas penginapan ramah lingkungan dengan konsep eco-lodge di sekitar wilayah pantai. Hal ini bukan hanya mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat setempat. Dengan demikian, pembangunan pariwisata tidak akan mengorbankan nilai ekologis dan historis pulau.
Lebih jauh lagi, Willem’s Toren III bisa dijadikan living museum — tempat edukasi tentang sejarah navigasi, perjuangan rakyat Aceh, serta teknologi maritim klasik. Pengunjung bisa mempelajari bagaimana sistem mercusuar bekerja, mengapa pola kedip cahaya berbeda-beda, dan bagaimana para penjaga mercusuar berperan penting menjaga keselamatan laut di masa lalu.
Pembangunan infrastruktur dan pengembangan wisata sejarah seperti ini sejalan dengan misi nasional menjaga kedaulatan di wilayah terluar. Kehadiran wisatawan, pelaku usaha, dan aparat negara di Pulau Breueh tidak hanya menggerakkan ekonomi, tetapi juga memperkuat eksistensi Indonesia di wilayah perbatasan baratnya. Dalam konteks geopolitik, penguatan kawasan perbatasan berbasis pariwisata dan maritim adalah bentuk nyata soft power bangsa.
Willem’s Toren III mengajarkan kita bahwa cahaya kecil di ujung negeri pun memiliki makna besar. Ia bukan hanya penuntun kapal di laut, tetapi juga penuntun kesadaran bahwa Indonesia adalah bangsa bahari yang besar — bangsa yang seharusnya tidak membiarkan warisan maritimnya tenggelam dalam gelombang ketidakpedulian.
Sudah saatnya mercusuar ini tak lagi berdiri sendiri di antara sunyi dan ombak. Ia perlu dijaga, dirawat, dan dijadikan titik awal pembangunan maritim berbasis sejarah di Aceh. Sebab, seperti cahaya yang dipancarkannya sejak 1875, Willem’s Toren III terus mengingatkan kita: bahwa dari ujung barat inilah cahaya Indonesia pertama kali menyapa dunia.
(Djoko Setijowarno adalah Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Wakil Ketua Pemberdayaan dan Pengembangan Wilayah Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat)

