Tanah Bergerak di Kota Semarang
Bencana tanah bergerak di jl. Skip Saptamarga 3, Kota Semarang.(Dok. BPBD Kota Semarang)

Pemkot Semarang Wacanakan Bangun Embung, Mitigasi Tanah Bergerak dan Longsor

SEMARANG[BahteraJateng] – Pemerintah Kota Semarang mewacanakan pembangunan sejumlah embung di wilayah atas sebagai langkah pencegahan bencana hidrometeorologi, khususnya banjir dan tanah longsor.

Upaya ini menyusul maraknya kejadian tanah bergerak di beberapa titik seperti Jangli, Ngesrep, dan Pudak Payung.

Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng mengaku prihatin atas rentetan bencana yang terjadi di wilayahnya dan meminta organisasi perangkat daerah terkait segera bergerak cepat.

Ia menyebut penanganan awal sempat dilakukan BPBD, namun penanganan teknis seperti pembangunan bronjong harus ditangani Dinas Pekerjaan Umum.

Menurut Agustina, longsor dan banjir dipicu minimnya lahan resapan air serta berkurangnya vegetasi di kawasan perbukitan Semarang bagian atas.

Kondisi tersebut meningkatkan tekanan air ke tanah dan berdampak hingga wilayah Semarang bawah yang kerap dilanda banjir.

Pemkot Semarang berencana memperbanyak embung di lahan milik pemerintah untuk menahan aliran air sekaligus mengurangi tekanan terhadap tanah. Selain itu, juga akan dilakukan sodetan sungai guna mengurangi beban aliran air,” ujarnya pada Senin (9/2).

Data BPBD Kota Semarang mencatat sejak awal Januari hingga awal Februari telah terjadi 55 kejadian bencana, didominasi tanah longsor dan tanah amblas.

Kepala BPBD Endro P. Martanto mengatakan kondisi tersebut dipengaruhi minimnya area resapan dan berkurangnya ruang hijau akibat perkembangan permukiman.

Karena itu, pembangunan embung dan penambahan area resapan dinilai menjadi langkah strategis untuk menekan risiko longsor dan banjir di Kota Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *