Peternak DIY Bagikan 1.200 Ayam di Malioboro, Protes Harga Pakan dan Anjloknya Harga Telur
YOGYAKARTA[BahteraJateng] – Sejumlah peternak ayam petelur dari berbagai wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) membagikan sekitar 1.200 ekor ayam kepada masyarakat di kawasan Malioboro, Kota Yogyakarta pada Senin (10/8). Selain itu, para peternak juga menyampaikan aspirasinya di DPRD DIY.
Aksi tersebut menjadi bentuk kritik sekaligus simbol kekecewaan peternak terhadap kondisi usaha peternakan yang dinilai semakin sulit. Tingginya harga pakan dan rendahnya harga telur membuat peternak mengalami kerugian dalam beberapa bulan terakhir.
Perwakilan peternak DIY, Andre Patra, mengatakan aksi pembagian ayam tersebut dilakukan agar masyarakat mengetahui kondisi yang tengah dihadapi para peternak.
“Kita sebagai bentuk sedekah ke masyarakat karena harga ayam tidak laku. Ini simbolis saja, 1.200 ekor sebenarnya tidak ada artinya. Kami membagikan supaya masyarakat tahu peternak hari ini sedang mengeluh dan mengalami kerugian cukup besar,” ujarnya.
Menurut Andre, peternak dari empat kabupaten dan kota di DIY, yakni Sleman, Kulon Progo, Gunungkidul, dan Bantul, berkumpul di Malioboro untuk menyampaikan aspirasi.
Pemilihan Malioboro sebagai lokasi aksi, kata dia, karena kawasan tersebut merupakan pusat perhatian masyarakat sekaligus berada di sekitar pusat pemerintahan.
“Kami berkumpul di sini untuk menyampaikan aspirasi. Semoga pemerintah mendengarkan bahwa peternak sedang mengalami kerugian cukup besar,” katanya.
Andre menyebut kondisi tersebut telah berlangsung sekitar tiga bulan. Kerugian yang dialami peternak berbeda-beda, tergantung jumlah populasi ayam yang dimiliki.
Ia memperkirakan kerugian dapat mencapai jutaan hingga ratusan juta rupiah bagi peternak dengan populasi besar. Sementara itu, biaya produksi telur saat ini dinilai jauh lebih tinggi dibandingkan harga jualnya.
“Per hari bisa rugi sekitar Rp4.000 sampai Rp5.000 per ekor. Normalnya harga telur sekitar Rp24 ribu sampai Rp25 ribu, tetapi sekarang sekitar Rp20 ribuan,” ujarnya.
Selain harga telur yang rendah, peternak juga menghadapi persoalan tingginya biaya pakan. Harga konsentrat disebut telah mencapai sekitar Rp840 ribu dan mengalami kenaikan hingga 20-40 persen.
Menurut Andre, kenaikan harga pakan turut dipengaruhi komponen bahan baku yang masih bergantung pada impor, terutama jagung. Kondisi nilai tukar dolar juga disebut memberikan dampak terhadap biaya produksi.
“Yang utama adalah menurunkan harga pakan supaya biaya produksi juga turun. Kalau bisa dari pabrikan jangan terus menaikkan harga pakan,” katanya.
Peternak juga meminta pemerintah menjamin ketersediaan jagung dengan harga yang wajar dan sesuai dengan harga pembelian yang ditetapkan.
Selain persoalan pakan, peternak menyoroti tingginya populasi ayam petelur yang dinilai membuat harga telur semakin sulit stabil. Salah satu langkah yang dilakukan peternak adalah melakukan afkir atau pengurangan populasi ayam.
Namun, harga ayam afkir saat ini disebut hanya berada di kisaran Rp13 ribu-Rp14 ribu per kilogram atau sekitar Rp26 ribu-Rp27 ribu per ekor.
Peternak berharap pemerintah dapat meningkatkan harga ayam afkir atau membantu menyerap ayam tersebut melalui cold storage maupun industri besar.
Andre juga mengusulkan adanya kelembagaan khusus yang menaungi sektor peternakan. Menurutnya, sektor peternakan saat ini masih berada di bawah Kementerian Pertanian sehingga diperlukan perhatian yang lebih spesifik.
“Kami berharap ada departemen atau kementerian peternakan yang secara khusus menaungi peternak,” ujarnya.
Ia menambahkan, persoalan populasi ayam juga perlu mendapat perhatian, termasuk terkait tingginya impor grand parent (GP) yang dinilai turut berpengaruh terhadap peningkatan populasi ayam petelur.
Aksi membagikan ayam tersebut, lanjut Andre, dilakukan serentak sebagai bentuk keprihatinan peternak. Di tengah momentum kemerdekaan, mereka berharap pemerintah tidak menutup mata terhadap kondisi peternak yang tengah mengalami tekanan ekonomi.
“Merdeka, tapi tetap menderita. Kami berharap pemerintah benar-benar mendengarkan aspirasi kami,” pungkasnya.


