Rob dan Harapan: Langkah Nyata Pemprov untuk Sawah Demak
DEMAK [BahteraJateng]- Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mempertegas komitmen menangani dampak banjir rob melanda kawasan pertanian di Kabupaten Demak.
Dalam kegiatan bertajuk “Sinergi Penanganan Sawah Terdampak Banjir untuk Peningkatan Produksi Padi”, di Balai Desa Dukun Kecamatan Karangtengah.

Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menegaskan, penanganan rob dan banjir bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan isu kemanusiaan dan ketahanan pangan nasional.
“Semua pihak bergerak, masyarakat, pemerintah, pengusaha, akademisi. Ini bukan proyek, tapi persoalan kemanusiaan dan kebencanaan,” tegas dia.

Ia mengungkapkan, fenomena rob terkonsentrasi di Demak kini telah meluas ke wilayah Jepara. Menyikapi hal tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah akan mengalokasikan anggaran sebesar Rp250–300 Miliar untuk penanganan kawasan pesisir terdampak.
Langkah konkret lainnya adalah normalisasi Sungai Pelayaran di Kecamatan Sayung sepanjang dua kilometer.
Namun, menurut Yasin, efektivitas proyek ini bergantung pada dukungan bahan bakar solar dari Pertamina serta berterimakasih kepada masyarakat rela meminjamkan Armada Dum truknya untuk mobilitas pengankutan sedimen.
“Besok saya akan ketemu Pertamina. Kita minta tambahan bahan bakar agar pengerukan bisa diperpanjang lebih dari dua kilometer,” ujarnya.
Yasin juga menyoroti pentingnya menjaga keberlanjutan lahan pertanian. Kontribusi Jawa Tengah terhadap produksi pangan nasional meningkat dari 16 persen pada 2024 menjadi 17 persen di awal 2025. Namun, peningkatan itu terancam menurun akibat alih fungsi lahan dan kerusakan akibat bencana.
“Kalau ingin kembali menyumbang 20–25 persen, maka lahan pertanian yang rusak harus dikembalikan termasuk yang ada di Demak,” katanya.
Bupati Demak Eisti’anah menyambut baik upaya Pemprov Jateng dalam memulihkan lahan pertanian. Menurutnya, wilayah Demak berada di dataran rendah sangat rentan terhadap banjir rob dan sedimentasi tinggi.
“Banyak sawah yang tidak bisa ditanami akibat sedimentasi. Tapi kami bersyukur karena tidak ada saling lempar tanggung jawab. Pemerintah daerah, provinsi, pusat, hingga swasta bersatu dalam penanganan,” ujar Eisti’anah.
Dukungan dari sektor keuangan juga datang dari Bank Indonesia. Plh. Kepala KPw BI Jawa Tengah Nita Rachmenia menegaskan, pihaknya tak hanya mendukung dari sisi teknis dan bantuan bibit, tetapi juga dalam pengendalian hama ramah lingkungan lewat pembangunan rumah burung hantu (rubuha).
“Sinergi ini penting untuk menjaga stabilitas pasokan, sekaligus kesejahteraan petani agar bisa berjalan selaras,” kata Nita. (hen)

