Salatiga Menuju Kota Kuliner Singkong
Oleh : Yanuar Rachmansyah
Kota Salatiga adalah wilayah terletak di kaki gunung Merbabu. Ia memiliki luas kurang lebih 56,78 kilometer persegi. Dengan posisi geografis 450 meter hingga 800 meter di atas permukaan laut, cuaca kota cenderung sejuk namun tidak terlalu dingin. Karakteristik geografis-alamiahnya cenderung menjadikannya nyaman untuk melaksanakan aktvitas kehidupan keseharian.

Sebagai salah satu wilayah satelit dari Kota Semarang, Kota ini terus mengalami perkembangan. Sejak dahulu, Kota Salatiga memang telah tersohor sebagai tempat yang kondusif untuk kegiatan pendidikan. Keberadaan kampus UKSW (perguruan tinggi swasta dengan reputasi nasional) menjadikannya magnet penarik kedatangan para mahasiswa dari seluruh penjuru Indonesia untuk menempuh pendidikan di sini.
Walapun belum bisa menyamai Semarang, terlebih lagi Yogyakarta, kepercayaan yang diberikan oleh warga masyarakat di seluruh penjuru Indonesia terhadap kota ini untuk mejadi tempat belajar yang baik dirasakan terus meningkat. Terlebih lagi, Kota Salatiga sudah terkenal sebagai salah satu tempat yang paling nyaman untuk ditinggali (one of most livable places) di lingkup Indonesia. Sekarang, Kota Salatiga dinilai dan dikenal sebagai salah satu kota yang sangat menghormati keberagaman serta amat toleran. Kiranya tidak berlebihan jika Kota Salatiga dianggap sebagai Indonesia Mini atau Miniatur Indonesia secara sosio-demografis.


Singkong sebagai ikon kreativitas kuliner
Walaupun Kota Salatiga adalah wilayah yang sudah terkenal sebagai kota pendidikan dan tempat dengan kadar toleransi sosial yang tinggi, namun pada perkembangan selanjutnya ia mampu mengenalkan diri sebagai tempat yang memunculkan produk industri yang khas. Bahkan, tidak berlebihan jika produk industri tersebut dapat menjadi ikon baginya. Pada saat ini, beragam produk olahan makanan dari singkong menjadi produk kuliner atau oleh-oleh yang ikonik dari kota ini. Bahkan bulan Desember yang lalu telah di adakan Festival kampung Singkong. Salah satu bentuk ikonik baru di salatiga.
Berdasarkan data yang dihimpun pada tahun 2021, kebutuhan bahan baku singkong untuk diolah menjadi 150 varian olahan atau produk kreasi makanan di Kota Salatiga sangat besar untuk ukuran industri, kecil dan menengah(IKM). Di Kelurahan Ledok dimana Kampung Singkong Argowiyoto Ngaglik dikukuhkan pada tahun 2021, kebutuhan rata-rata dalam satu harinya adalah 8 ton. Selain Kelurahan Ledok, ada beberapa wilayah unggulan atau sentra produksi. Diantaranya adalah Kelurahan Kauman Kidul di Kecamatan Sidorejo (200 kilogram setiap hari), Kelurahan Sidorejo Kidul di Kecamatan Tingkir (100 kilogram setiap hari), Kelurahan Cebongan di Kecamatan Argomulyo (100 kilogram setiap harinya).
Dari gambaran itu menunjukkan bahwa kegiatan industri makanan olahan dari singkong berkembang dengan bagus. Untuk Kelurahan Ledok dengan kegiatan paling ramai diantara keempatnya, terdapat di dalamnya 32 unit IKM . Diantara nya ada merek D-9 , Argotelo, Semesta dll yang mampu menyerap tenaga kerja banyak. Singkong yang diolah dengan keju sebagai bahan atau bumbu yang dominan (Singkong Keju) adalah produk unggulannya.
Bagi suatu wilayah, keberadaan dan kemampuannya untuk menampilkan produk olahan makanan yang ikonik tentu saja akan memberikan keuntungan. Ikon produk olahan makanan itu menjadikan kesadaran (awareness) atau memori kolektif publik terbangun. Yogyakarta mempunyai kuliner ikonik berupa gudeg. Semarang dengan Wingko Babat, Surabaya dengan rujak cingur. Tetapi, dari Medan justru dimunculkan Bika Ambon.
Mengenai produk makanan olahan atau produk kuliner itu sendiri, saat ini ia tidak lagi hanya sebatas produk pemuas kebutuhan dasar manusia. Ada hal lain yang dicari oleh konsumen pada saat mereka mengonsumsi produk kuliner. Produk kuliner yang menampilkan aspek budaya asli suatu daerah atau kreativitas kuliner yang kekinian menjadi daya tarik bagi para wisatawan untuk datang mengunjungi daerah tersebut. Apa saja produk kuliner yang mampu menampilkan kreativitas dan memberikan kesan memang akan memberikan pengalaman tersendiri.
Kesadaran atau memori kolektif yang terbangun terkait dengan kreativitas kuliner kekinian akan menjadi harta yang tidak berwujud benda (intangible asset) bagi suatu wilayah. Jika Kota Salatiga mampu menjadikan berbagai produk olahan makanan dari singkong sebagai ikon kreativitas kuliner, keuntungan materi maupun non materi bagi IKM yang diperoleh akan lebih besar. Pada kenyataannya, produk-produk olahan makanan ikonik dapat dibawa sebagai buah tangan. Dengan demikian, kesadaran dan memori kolektif itu terbentuk secara lebih kuat di lingkup Indonesia. Sebagai dampak positif kelanjutannya, kunjungan wisata yang menuju ke Kota Salatiga atau singgah sebagai tujuan tambahan menjadi semakin sering.
Peran strategis dari Stakeholder
Karena kemampuannya untuk membangun memori kolektif dan kesadaran yang kemudian memberikan keuntungan materi dan non materi, industri makanan olahan dari singkong di Kota Salatiga tentu saja harus dikembangkan. Pemerintah Kota Salatiga melalui Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja sebagai salah satu organ birokrasinya adalah pengampu kepentingan (stake holder) yang utama. Instansi ini adalah lembaga yang di amanhi tanggung jawab paling tinggi untuk menjadikannya semakin maju dan kemudian memberikan kontribusi yang semakin bermakna. Perhatian yang besar memang sangat diharapkan dari isntansi tersebut.
Sebagaimana yang dikemukakan sebelumnya, beragam produk kuliner dari singkong diharapkan dapat meningkatkan minat para wisatawan untuk mengunjungi Kota Salatiga. Oleh karena itulah, dibutuhkan optimalisasi peran pengelolaan dari sisi pariwisata dan kebudayaan. Sehingga, peran strategis dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Salatiga harus dibutuhkan dalam hal ini.
Secara logis, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata mengemban peran untuk mewujudkan keterkaitan yang harmonis antara aktivitas kepariwisataan dengan aktivitas industri kuliner tersebut. Kampung Singkong Argowiyoto dan beberapa sentra produksi makanan olahan dari singkong lainnya memang harus dijadikan obyek kunjungan wisata Edukasi dan kunjungan para wisatawan perlu untuk semakin sering diarahkan ke sana. Beberapa sentra produksi selain Kampung Singkong Argowiyoto tersebut juga perlu dipersiapkan dengan baik sehingga menjadi layak untuk dikunjungi (visitable).
Pengelolaan kegiatan industri kuliner pastilah melibatkan kreativitas yang muncul dari berbagai gagasan yang relevan dengan hal itu. Beragam gagasan atau pemikiran taktis atau terlebih lagi pemikiran yang strategis untuk pengembangannya secara berkelanjutan memang perlu untuk diwadahi secara resmi. Disamping itu, penataan atau pengelolaan kawasan yang tepat untuk menunjang aktivitas industri kuliner dan kepariwisataan juga menjadi aspek yang penting untuk dilakukan secara berkesinambungan. Terkait dengan hal itulah, Badan Perencanaan, Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kota Salatiga diharapkan bisa memberikan kontribusi strategis.
Sisi lainnya adalah aspek kesehatan adalah hal yang sama sekali tidak dapat dipisahkan dari dinamika kegiatan industri kuliner tak tercuali beragam produk makanan olahan dari singkong. Keselamatan para konsumen adalah hal yang melekat secara langsung dengan aspek kesehatan. Selain itu, produk kuliner memang harus dapat memenuhi standar kualitas dari aspek kesehatan. Oleh sebab itulah, peran taktis dan peran strategis dari Dinas Kesehatan Kota Salatiga harus dilibatkan. Instansi ini memberikan peran melalui aktivitas pengujian kelayakan produk dari sisi kesehatan dan juga edukasi terkait kegiatan pengolahan produk agar dapat memenuhi syarat kelayakan dan keamanan.
Kemajuan industri beragam produk olahan makanan dari singkong yang ada di Kota Salatiga membutuhkan kontribusi pemikiran taktis dan gagasan strategis secara berkelanjutan. Dari aspek manajerial-birokratis, kepariwisataan, penelitian dan pengembangan, serta kesehatan sumbangan gagasan senantiasa diperlukan. Karenanya, selain melalui beberapa instansi pemerintahan itu, peran perguruan tinggi diperlukan pula. Kerja sama sinergis dengan berbagai perguruan tinggi yang ada semisal Universitas Diponegoro, Universitas Kristen Satya Wacana, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Bank BPD Jateng, danPTN PTS lainnya perlu dijalin dengan baik.
Dukungan berkesinambungan
Salah satu ukuran kemajuan bagi suatu industri dalam bidang apapun adalah kemampuannya untuk memasarkan produk ke wilayah pemasaran di luar negeri. Suatu produk dinilai sebagai produk yang bagus apabila ia mampu menembus pasar ekspor, termasuk di dalamnya beragam makanan olahan dari singkong. Bagaimanapun juga, reputasi yang lebih tinggi memang diperoleh dari kemampuannya untuk diminati atau diterima oleh konsumen manca negara. Penerimaan yang diperoleh dari konsumen luar negeri adalah wujud nyata pengakuan yang lebih tinggi terhadap mutu produk.
Peluang pasar bagi beragam produk olahan makanan dari singkong Indonesia memang terbuka. Dalam kenyataannya, pada masa sekarang setiap negara saling membutuhkan. Setiap negara dipaksa oleh keadaan untuk membuka dirinya. Tidak ada satu negara saja yang mampu memenuhi seluruh kebutuhan dirinya.
Beragam produk olahan makanan dari singkong yang berasal dari Indonesia telah diterima oleh pasar manca negara. Karena sifat atau karakteristik rasa yang tidak menimbulkan rasa “berat” di lidah, konsumen dari manca negara kemudian meminatinya. Berdasarkan kenyataan selama ini, memang ada beberapa negara yang sudah dapat menjadi wilayah pemasaran. Diantaranya adalah :Amerika Serika. Nederland, Inggris, Italia, Jerman, China, Jepang, Taiwan, Korea Selatan dan Saudi Arabia.
Melalui pelaksanaan aktivitas promosi, sosialisasi, dan lobby dagang yang bagus, negara yang dapat menjadi wilayah pemasaran bisa bertambah.Tentunya sudah menjadi kewajiban bagi Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Kota Salatiga yang telah memberikan pembinaan, pendampingan atau beragam wujud penguatan agar para IKM industri olahan dari singkong dapat memanfaatkan peluang bisnis dari pasar manca negara. Langkah yang bersifat strategis dan juga berkelanjutan dalam hal ini sudah dilakukan oleh Dinas perindustrian dan tenaga kerja secara berkesinambungan.
Selama ini, salah satu tantangan utama dari para pelaku IKM adalah pemahaman terhadap seluk beluk atau prosedur perdagangan luar negeri (dalam hal ini adalah ekspor) yang belum baik. Kurangnya pemahaman terhadap hal ini menjadikan mereka ragu-ragu untuk melakukan upaya pemasaran produk ke pasar internasional. Keadaan ini dapat menimbulkan akibat berupa dikuasainya wilayah pemasaran luar negari oleh negara-negara pesaing. Kelemahan yang ada harus diupayakan untuk berkurang.
Oleh karena itulah, Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Kota Salatiga telah memberikan dukungan penuh kepada mereka. Sudah barang tentu, dukungan kepada para pelaku usaha IKM industry olehan singkong memang harus bersifat berkesinambungan dan tidak insidental. Dukungan kepada mereka diberikan melalui kegiatan pendampingan dan pelatihan. Sebagai misal, pada saat ini para pengusaha membutuhkan pelatihan prosedur dokumentasi ekspor produk. Mereka juga membutuhkan informasi pasar dan analisis pasar ekspor pada beberapa negara tujuan.
Guna mengenalkan beragam produk yang dihasilkan kepada para pembeli potensial di luar negeri, kegiatan promosi ekspor diperlukan melalui penyusunan profil selain aktivitas pameran dagang. Satu lagi dukungan bersifat strategis yang diperlukan adalah pendampingan kemitraan berorientasi ekspor (export oriented partnership coaching).
(Dr. Yanuar Rachmansyah, Dosen dan konsultan UMKM, pemerhati dinamika sosial dan ekonomi. Tinggal di Semarang). #Tayangan ulang (red)

