SAMAWA #27 Rayakan Milad ke-75 Jabrohim dan Peluncuran Buku Puisi
BANTUL[BahteraJateng] – Komunitas Seni Budaya Profetik (Kosbatik) menggelar Kajian dan Apresiasi Seni SAMAWA #27 di kediaman pegiat seni dan pensiunan dosen, Jabrohim, di Salakan, Sewon, Bantul pada Selasa (30/12).
Kegiatan rutin yang berlangsung setiap selapan ini terasa istimewa karena bertepatan dengan peringatan milad ke-75 Jabrohim sekaligus peluncuran buku puisi terbarunya.

Dalam suasana hangat dan reflektif, Jabrohim meluncurkan kumpulan puisi berjudul Nyanyian Hati yang Lelah, yang diterbitkan Yayasan Pusbatik bekerja sama dengan PT De Java Karya Wisesa Surakarta.
Jabrohim menyebut buku tersebut sebagai “hadiah kecil untuk diri sendiri”, sekaligus upaya menjaga kepekaan batin di tengah realitas sosial yang kian gaduh.
Acara dihadiri seniman, sastrawan, pemerhati seni, serta akademisi dari berbagai latar belakang. Diskusi menempatkan puisi tidak semata sebagai karya estetik, tetapi juga sebagai medium refleksi sosial dan spiritual.
Salah satu sesi utama diisi pemaparan dan pembacaan kritis oleh Lephen Purwanto, dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Lephen menilai puisi-puisi Jabrohim bergerak dalam dua jalur yang saling menguatkan, yakni estetika dan profetika.
Menurutnya, karya Jabrohim menghadirkan keindahan bahasa sekaligus sikap moral yang tegas.
Lephen menyoroti beberapa puisi, di antaranya “Pagar Laut” yang memotret komodifikasi ruang hidup nelayan, “Ibu Tidak Dilahirkan untuk Menangis” sebagai kritik atas ketidakadilan struktural terhadap perempuan, serta “Negara yang Tak Sempat Hadir di Dirinya Sendiri” yang menyinggung absennya negara dalam perlindungan warga.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan Muhasabah Akhir Tahun oleh Mustofa W. Hasyim.
Melalui SAMAWA #27, Kosbatik menegaskan komitmennya menjadikan seni sebagai ruang dialog dan penyadaran, sekaligus meneguhkan puisi sebagai suara nurani di tengah zaman yang lelah namun tetap berharap pada kemanusiaan.

