Penolakan Geothermal Gunung Ungaran
Gerakan penolakan terhadap rencana pengembangan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) atau geothermal di kawasan Gunung Ungaran, bertajuk Semar Gugat digelar di Basecamp Kendalisodo, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang pada Rabu (2/9) sore.(Dok. Lim)
|

Seniman hingga Pecinta Alam Bersatu Tolak Geothermal Gunung Ungaran

SEMARANG[BahteraJateng] – Penolakan terhadap rencana pengembangan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) atau geothermal di kawasan Gunung Ungaran, Jawa Tengah, melibatkan berbagai elemen masyarakat.

Gerakan bertajuk Semar Gugat digelar di Basecamp Kendalisodo, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang pada Rabu (2/9) sore. Kegiatan tersebut diikuti seniman, budayawan, pecinta alam, pegiat situs cagar budaya, komunitas paranormal, kelompok pemuda hingga warga yang tinggal di lereng Gunung Ungaran.

Ketua Komunitas Rawa Pening bidang seni budaya sekaligus penyelenggara kegiatan, Heru Gentho, mengatakan Semar Gugat lahir dari keresahan masyarakat terhadap aktivitas geothermal yang mulai berlangsung di sekitar kawasan Gunung Ungaran dan Gunung Telomoyo.

Menurut dia, keberagaman kelompok yang bergabung menunjukkan adanya perhatian bersama terhadap kelestarian kawasan Gunung Ungaran.

“Kami ingin menyatukan pikiran, bagaimana kawasan ini sebaiknya dijaga. Jangan sampai seperti yang terjadi di daerah lain, ketika geothermal sudah berjalan masyarakat kesulitan untuk melakukan penolakan,” ujarnya.

Heru mengatakan gerakan tersebut tidak hanya diikuti masyarakat Kabupaten Semarang. Peserta juga datang dari Salatiga, Ambarawa, Kota Semarang, Kendal, Batang, Blora, Pekalongan, Yogyakarta hingga Jepara.

Ia menegaskan Semar Gugat memilih pendekatan seni dan budaya untuk menyampaikan aspirasi. Gerakan tersebut, kata dia, bukan sekadar demonstrasi, melainkan upaya mengajak masyarakat menjaga lingkungan dan warisan budaya.

Selain keberadaan sumber air, kelompok tersebut menyoroti potensi dampak aktivitas pengeboran panas bumi terhadap pertanian serta situs-situs bersejarah di kawasan Gunung Ungaran.

“Yang kami inginkan adalah geothermal jangan sampai masuk Kabupaten Semarang. Kalau sudah berjalan, kami juga meminta agar dibatalkan,” tegasnya.

Gerakan Semar Gugat berencana melanjutkan kegiatan di kawasan Candi Gedong Songo pada 1 Oktober 2026. Kegiatan bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila itu akan dikemas dalam bentuk upacara menggunakan bahasa Jawa dengan target sekitar 2.000 peserta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *