UIN Walisongo Diskusi Ilmiah
UIN Walisongo Semarang menggelar Diskusi Ilmiah bertajuk “Studi Filologi dalam Kajian Naskah-Naskah Walisongo” pada Kamis (18/9) di Ruang Theater Lantai 4 Gedung Rektorat Kampus III Ngaliyan.(Foto Ist)

UIN Walisongo Gelar Diskusi Ilmiah Studi Filologi Naskah-Naskah Walisongo

SEMARANG[BahteraJateng] – Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang menggelar Diskusi Ilmiah bertajuk “Studi Filologi dalam Kajian Naskah-Naskah Walisongo” pada Kamis (18/9) di Ruang Theater Lantai 4 Gedung Rektorat Kampus III Ngaliyan.

Acara yang berlangsung pukul 08.00–13.30 WIB ini menghadirkan sejumlah pakar, di antaranya Dr. Ahmad Baso, Dr. Anasom, serta Rektor UIN Walisongo, Prof. Dr. Nizar Ali.


Dalam sambutannya, Prof. Nizar menekankan pentingnya filologi sebagai metodologi ilmiah dalam merekonstruksi sejarah dan menyingkap makna teks kuno. Menurutnya, kajian manuskrip memiliki relevansi besar dengan visi Unity of Sciences yang diusung kampus.

“Filologi membuka peluang kajian interdisipliner, mulai dari linguistik, sejarah, ilmu sosial hingga keagamaan,” ujarnya.

Pakar filologi Ahmad Baso menyampaikan, mempelajari naskah kuno menjadi cara akademis menyingkap kebenaran sejarah Walisongo. Ia menilai, sumber primer dalam tradisi Nusantara tidak bisa dipandang tunggal, melainkan saling berhubungan.

“Nusantara adalah satu kesatuan maqasid, antar-manuskrip saling berkomunikasi. Karena itu, peneliti perlu menguasai metodologi sejarah, filologi, sastra, dan bahasa-bahasa lokal,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Walisongo Center, Dr. Anasom, menyoroti pentingnya pelestarian manuskrip. Ia menegaskan bahwa naskah bukan hanya benda mati, melainkan saksi hidup proses Islamisasi di Nusantara.

“Filologi mengajarkan kesabaran menelusuri huruf, kata, dan konteks sehingga sejarah bisa dihidupkan kembali,” katanya.

Diskusi ilmiah ini diikuti mahasiswa, peneliti, budayawan, dan masyarakat umum. Panitia menegaskan, kegiatan tersebut tidak sekadar nostalgia, melainkan langkah untuk memperkuat identitas Islam Nusantara melalui warisan intelektual Walisongo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *