40 Puskesmas di Semarang Sediakan ARV Gratis bagi Penderita HIV
SEMARANG[BahteraJateng] – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang menyediakan layanan pengobatan HIV melalui 40 puskesmas dan hampir seluruh rumah sakit pemerintah maupun swasta di Kota Semarang. Obat Antiretroviral (ARV) diberikan secara gratis bagi masyarakat yang membutuhkan.
Ketua Tim Kerja Pengendalian Penyakit Menular Langsung Dinkes Kota Semarang, Anggun Dessita Wandastuti, mengatakan hingga pekan lalu jumlah kasus HIV di Kota Semarang tercatat mencapai 275 kasus.

Menurut Anggun, penemuan kasus HIV dalam tiga tahun terakhir cenderung menurun. Kondisi tersebut tidak lepas dari upaya pengendalian yang dilakukan pemerintah bersama organisasi masyarakat sipil, masyarakat, dan berbagai lembaga terkait.
“Kami ada di 40 puskesmas yang sudah bisa diakses untuk layanan pengobatan ARV. Kemudian hampir di seluruh rumah sakit, baik pemerintah maupun swasta, menyediakan obat ARV dan obatnya gratis,” ujar Anggun pada Selasa (23/6).

Selain layanan pengobatan, sejumlah puskesmas di Kota Semarang juga membuka layanan khusus tes HIV pada malam hari guna memudahkan masyarakat mengakses pemeriksaan.
Dinkes menegaskan tingginya angka temuan HIV di Kota Semarang yang tercatat tertinggi di Jawa Tengah tidak perlu distigmatisasi. Tingginya angka tersebut justru mencerminkan masifnya upaya skrining dan deteksi dini yang dilakukan di lapangan.
Menurut Anggun, deteksi dini memungkinkan penderita mengetahui status kesehatannya lebih cepat sehingga dapat segera menjalani pengobatan dan menekan risiko penularan.
Ia mengakui, tantangan utama dalam penanganan HIV di Kota Semarang masih berupa stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV. Kondisi itu membuat sebagian masyarakat yang berisiko enggan melakukan pemeriksaan karena khawatir status kesehatannya diketahui orang lain.
Padahal, deteksi sejak dini menjadi faktor penting dalam meningkatkan kualitas hidup penderita. Pasien yang terdiagnosis saat kondisi kesehatannya masih baik memiliki peluang lebih besar untuk menjalani hidup secara sehat dan produktif dibandingkan mereka yang baru terdeteksi saat sudah memasuki tahap AIDS.

