Jateng Masuki Hujan Mulai Awal Oktober
SEMARANG [BAHTERA JATENG]- Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan wilayah Jawa Tengah sudah memasuki musim hujan di awal bulan Oktober 2024.
Kepala Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang, Yoga Sambodo mengungkapkan, provinsi ini akan mengalami suhu udara maksimum pada bulan Oktober 2024.

Berdasarkan data klimatologis rentang 1991- 2020 (30 tahun) Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang mencatat bulan Oktober sebagai bulan dengan suhu rata-rata maksimum.
“Adanya potensi wilayah Jawa Tengah (terutama bagian pantura) mencapai suhu rata-rata maksimum pada siang hari, tentunya jika cuaca cerah tidak ada tutupan awan,” ungkap Yoga Sambodo, dalam siaran rilisnya, Senin (30/9).

Menurut dia, posisi semu matahari mulai bergeser dari Belahan Bumi Utara (BBU) ke Belahan Bumi Selatan (BBS) mengakibatkan wilayah-wilayah di selatan katulistiwa memasuki musim transisi.
“Masa transisi musim dari musim kemarau ke musim hujan terutama awal hingga pertengahan Oktober,” terang dia.
Menurut dia, masa transisi musim tersebut kondisi atmosfer cenderung labil sehingga berpotensi membentuk awan Cumulonimbus (Cb). Situasi ini dapat memicu terjadinya cuaca ekstrem, seperti kilat/petir, angin kencang, puting belilung, hujan lebat, hujan es (hail) dan lain sebagainya.
“Awal Musim Hujan Tahun 2024 paling awal terjadi pada bulan September Dasarian Ill atau Akhir September 2024,” kata dia.
Diantaranya Kabupaten Purbalingga, Banjarnegara dan Wonosobo bagian Utara, sebagian Kabupaten Cilacap, Tegal, Pemalang, dan Pekalongan Bagian Selatan, sebagian kecil Kabupaten Banyumas bagian utara, Brebes dan Temanggung.
Sedangkan, kata dia, wilayah paling akhir pada bulan November Dasarian Il sekitar Pertengahan November 2024. Meliputi sebagian Kabupaten Rembang, Wilayah Timur Kabupaten Pati dan Wilayah Timur Laut Kabupaten Jepara.
Kemudian untuk Puncak Musim Hujan Tahun 2024/2025 umumnya diprakirakan terjadi pada Bulan Januari-Februari Tahun 2025.
“Kami mengajak semua pihak untuk berperan aktif dalam memahami potensi dampak dari fenomena ini,” terang dia.
Masyarakat dimbau untuk dapat beradaptasi dengan perubahan cuaca yang terjadi, baik dari yang tadinya panas tiba-tiba berubah hujan.
Selain itu, lanjut dia, masyarakat tinggal dan beraktivitas di wilayah rawan bencana diimbau untuk terus waspada.
Masyarakat diminta siaga pada saat terjadi hujan lebat untuk mengantisipasi dampak dapat terjadi seperti banjir, tanah longsor, angin kencang, sambaran petir dan pohon tumbang.

