Transportasi Publik sebagai Jaring Pengaman Ekonomi Kawasan Selatan Subosukawonosraten
Oleh: Anastasia Yulianti
Transportasi publik sering kali hanya dipandang sebagai sarana memindahkan orang dari satu tempat ke tempat lain. Padahal, di kawasan selatan aglomerasi Subosukawonosraten, transportasi umum memiliki fungsi yang jauh lebih strategis: menjadi jaring pengaman ekonomi masyarakat.
Koridor Kota Surakarta–Sukoharjo–Wonogiri merupakan salah satu jalur penting pergerakan masyarakat di Solo Raya. Berdasarkan data BPS 2025, ketiga wilayah tersebut dihuni hampir 2,5 juta jiwa. Surakarta berperan sebagai pusat jasa, perdagangan, pendidikan, dan pemerintahan. Sukoharjo berkembang sebagai kawasan industri, sedangkan Wonogiri menjadi wilayah penyangga dengan mobilitas tenaga kerja dan komuter yang tinggi.
Dalam struktur ekonomi seperti itu, biaya mobilitas menjadi bagian penting dari ketahanan ekonomi rumah tangga. Dengan tingkat upah minimum yang berkisar Rp2,1 juta hingga Rp2,4 juta per bulan, pengeluaran untuk bahan bakar, parkir, dan perawatan kendaraan pribadi dapat menjadi beban signifikan bagi pekerja.
Di sinilah kehadiran Trans Jateng Koridor Solo–Wonogiri dan KA Perintis Batara Kresna menjadi penting. Keduanya bukan sekadar alat transportasi, tetapi instrumen untuk menjaga daya beli masyarakat.
Sepanjang 2025, Trans Jateng Koridor Solo–Wonogiri mengangkut sekitar 1,54 juta penumpang dengan load factor 110 persen. Sementara KA Batara Kresna melayani sekitar 353 ribu penumpang. Jika digabungkan, kedua moda tersebut melayani hampir 1,9 juta perjalanan penumpang dalam setahun.
Angka itu menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap transportasi publik di koridor selatan bukan sekadar potensi, melainkan kebutuhan nyata masyarakat.
Keunggulan keduanya justru terletak pada karakter yang berbeda. Trans Jateng menawarkan fleksibilitas dengan halte yang tersebar di sepanjang koridor dan frekuensi perjalanan yang relatif rapat. Moda ini sangat penting bagi pekerja, pelajar, mahasiswa, dan masyarakat yang membutuhkan perjalanan harian.
Sementara Batara Kresna menawarkan kepastian waktu perjalanan melalui jalur rel. Moda ini dapat menjadi pilihan bagi penumpang yang melakukan perjalanan langsung, pedagang pasar, lansia, rombongan keluarga, maupun wisatawan.
Karena itu, kedua moda tidak seharusnya diposisikan sebagai pesaing. Keduanya perlu diintegrasikan.
Integrasi dapat dimulai dari tiga simpul strategis, yakni Stasiun Wonogiri, Stasiun Sukoharjo, dan Stasiun Pasar Nguter. Halte bus yang terhubung dengan stasiun, akses pejalan kaki yang nyaman, serta informasi perjalanan yang terpadu akan memudahkan masyarakat berpindah moda.
Yang tidak kalah penting adalah penyelarasan jadwal atau timed transfer. Kedatangan bus beberapa menit setelah kereta tiba dapat memangkas waktu tunggu penumpang dan membuat perjalanan antarmoda lebih efisien.
Integrasi tersebut akan memberikan manfaat lebih luas. Pekerja dapat menghemat biaya perjalanan, masyarakat memperoleh akses lebih mudah menuju pusat pendidikan dan lapangan kerja, sementara kawasan industri dan pariwisata mendapatkan dukungan konektivitas yang lebih baik.
Hampir 1,9 juta perjalanan penumpang pada 2025 seharusnya menjadi pesan kuat bagi pemerintah. Transportasi publik yang murah dan terintegrasi bukan beban anggaran semata, melainkan investasi sosial-ekonomi.
Jika dikelola secara terpadu, Trans Jateng dan Batara Kresna dapat menjadi duet urat nadi mobilitas Solo Raya. Lebih dari sekadar mengurangi kemacetan, keduanya dapat menjaga napas ekonomi keluarga pekerja sekaligus mendorong pertumbuhan kawasan yang inklusif dan berkelanjutan.
(Anastasia Yulianti adalah Sekretaris Masyarakat Transportasi Indonesia/MTI Wilayah Jawa Tengah)


