Seminar UIN Walisongo Semarang
Seminar Pengembangan Soft Skill dan Career Skill bagi Mahasiswa di Hotel Artotel Wanasaba, Wonosobo, Jumat (23/10).(Dok. UIN Walisongo)

UIN Walisongo Dorong Mahasiswa Miliki Portofolio Nyata untuk Hadapi Dunia Kerja

WONOSOBO[BahteraJateng] – Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Walisongo Semarang berkolaborasi dengan Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI), Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, dan Komisi VIII DPR RI mendorong mahasiswa memperkuat keterampilan kerja serta membangun portofolio nyata sebagai bekal memasuki dunia profesional.

Upaya tersebut diwujudkan melalui Seminar Pengembangan Soft Skill dan Career Skill bagi Mahasiswa di Hotel Artotel Wanasaba, Wonosobo pada Jumat (23/10/2026).

Wakil Dekan I FTIK UIN Walisongo Semarang, Ahmad Muthohar, yang membuka kegiatan tersebut, mengatakan lulusan perguruan tinggi tidak cukup hanya mengandalkan nilai akademik. Mahasiswa juga perlu memiliki keterampilan adaptif, literasi digital, dan bukti kompetensi yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.

“Tantangan lulusan hari ini tidak lagi sekadar membuktikan capaian Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) di atas kertas, tetapi bagaimana menunjukkan value serta diferensiasi diri di tengah perubahan dunia kerja yang sangat cepat,” ujarnya.

Anggota Komisi VIII DPR RI, Wibowo Prasetyo, dalam pemaparannya menekankan pentingnya penguasaan soft skills dan keterampilan karier di tengah perubahan kebutuhan tenaga kerja dan perkembangan kecerdasan buatan (AI).

Menurut dia, ijazah merupakan modal awal, sedangkan daya saing lulusan turut ditentukan oleh keterampilan dan pengalaman yang dapat dibuktikan melalui portofolio.

Pekerjaan rutin, kata dia, semakin berpeluang diotomatisasi. Karena itu, mahasiswa perlu memperkuat kemampuan yang mengandalkan penilaian manusia, seperti empati, kepemimpinan, tanggung jawab, dan pengambilan keputusan etis.

Wibowo mendorong mahasiswa menyusun rencana aksi selama 90 hari dan mulai mendokumentasikan hasil proyek nyata, seperti modul pembelajaran, kampanye sosial, maupun produk digital.

Sementara itu, Wakil Rektor I Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ) Jawa Tengah di Wonosobo, Prof. Sri Haryanto, menyebut lulusan unggul perlu memiliki empat fondasi, yakni keahlian bidang, literasi digital beretika, soft skills, dan integritas.

Ia menegaskan pemanfaatan AI harus disertai kemampuan berpikir kritis, verifikasi informasi, dan tanggung jawab akademik.

“AI hendaknya dijadikan alat bantu untuk mempercepat ide, bukan pengganti nalar dan etika manusia,” katanya.

Seminar ditutup dengan diskusi interaktif dan penyusunan rencana aksi 30 hari. Mahasiswa diarahkan mengenali potensi diri, melatih keterampilan, membangun kolaborasi, dan menghasilkan draf portofolio sebagai langkah awal mempersiapkan karier.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *