| | |

BPS Jateng Catat Penurunan Tarif Listrik Sumbang Deflasi

SEMARANG [BahteraJateng]- Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah mencatat penurunan tarif listrik menjadi salah satu penyumbang deflasi di Jawa Tengah terjadi pada Februari 2025.

Kepala BPS Jateng, Endang Tri Wahyuningsih mengatakan, tingkat deflasi month to month (m-to-m) Provinsi Jawa Tengah bulan Februari 2025 sebesar 0,78 persen. “Jateng kembali mengalami deflasi cukup dalam dibandingkan nasional tercatat 0,48 persen,” ungkap Endang, di Semarang, (3/3).


Dia melanjutkan, deflasi year on year (y-on-y) Provinsi Jawa Tengah sebesar 0,08 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 105,75. Sedangkan, tingkat deflasi year to date (y-to-d) sebesar 1,23 persen.

“Ini pertama kali Jateng mengalami deflasi baik y-on-y dan y-on-d sejak 10 tahun terakhir,” terang dia.


Dia melanjutkan, pada Februari 2025 deflasi year on year (y-on-y) Provinsi Jateng sebesar 0.08 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 105,75. Berdasarkan survei BPS, deflasi y-on-y terdalam terjadi di Kabupaten Wonogiri sebesar 0,48 persen dengan IHK sebesar 106,12. Adapun, inflasi y-on-y tertinggi di Cilacap sebesar 0,30 persen dengan IHK sebesar 105,71.

“Deflasi y-on-y terjadi ada penurunan harga ditunjukkan oleh turunnya indeks dua kelompok pengeluaran. Pertama, kelompok perumahan meliputi air, listrik dan bahan bakar rumah tangga sebesar 15,41 persen. Selanjutnya, kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0.73 persen,” terang dia.

“Diskon tarif listrik memberikan andil sangat signifikan dalam inflasi,” terang dia.

Menurut dia, berdasarkan survei biaya hidup rumah tangga tahun 2002 disebabkan tarif listrik, bensin dan beras memicu pengeluaran tertinggi. Oleh sebab itu, ke tiganya memberikan dampak terhadap pengeluaran rumah tangga.

Meski demikian, kata dia, selama dua bulan berturut-turut listrik turut penyumbang deflasi cukup dalam namun tetap mewaspadai pada bulan Maret 2025. Pelanggan pra bayar akan kembali membayar dengan tarif normal karena diskon akan berakhir.

“Ditambah dengan datangnya bulan Ramadan ini umumnya akan ada harga kenaikan pangan sehingga kemungkinan mempengaruhi nilai inflasi pada Maret 2025,” kata dia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *