Buku Rochjani Soe’oed Kisahkan Perjuangan Pemuda Betawi
JAKARTA [BAHTERA JATENG]- Buku berjudul M. Rochjani Soe’oed: Dari Betawi untuk Indonesia, mengisahkan perjuangan pemuda Betawì dari organisasi Pemoeda Kaoem Betawi sebagai salah satu tokoh dalam peristiwa Sumpah Pemuda 1928.
Penulis Buku, Lahyanto Nadie mengatakan,

semua mantan gubernur diundang namun ada juga yang berhalangan.
Bang Lay, panggilan akrab Lahyanto Nadie, menjelaskan, Gubernur DKI Jakarta (1997-2007) Sutiyoso tak dapat hadir namun memberikan kata sambutan dalam buku tersebut.
“Saya mengapresiasi tim penulis yang bukunya dalam genggaman pembaca ini. Tim melakukan, semacam ‘napak tilas’, sosok dan kehidupan Mohamad Rochjani. Pembaca dapat memetik pelajaran dan hikmah dari anak Betawi kelahiran Jakarta 1 November 1906 ini,” kata Sutiyoso.
Basuki Tjahaja Purnama menyampaikan ucapan selamat dan sukses atas peluncuran buku ini.
“Pak Ahok tak dapat hadir karena masih berada di China,” kata Bang Lay.
Para pembicara dalam peluncuran buku tersebut adalah antropolog dari Universitas Indonesia Prof. Yasmine Zaki Shahab dan budayawan N. Syamsuddin Ch. Haesy atau lebih dikenal dengan panggilan Bang Sem.
Yasmine mengatakan, peninggalan Rochjani diabadikan menjadi benda bersejarah. Di samping, menelusuri dan mencari informasi sedetil mungkin lantas mengabadikan menjadi sebuah buku.
Misalnya, rumah Rochjani di Kepu, Kemayoran, Jakarta Pusat, harus jadi cagar budaya. Pemerintah DK Jakarta perlu segera cepat bergerak menjadikan rumah tersebut menjadi cagar budaya agar tidak punah.
Bagi masyarakat Betawi juga harus memahami bahwa ada aset terancam.
“Orang Betawi berdosa jika asset penting tersebut sampai terjual. Ini penting saya tegaskan agar orang Betawi pada melek,” kata dia.
Sementara itu, Bang Sem menjelaskan, potret dimensional berbagai aspek dan faktor ketokohan Rochjani Soe’oed dari personalitas dirinya, dimensi lingkungan domestik.
Bila hendak dihadirkan pada dimensi kekinian sebagai cermin di tengah kehidupan bangsa gamang, tak menentu, ribet, dan dihadapkan dilema kemenduaan, eksistensi dan peran dirinya merupakan cermin jernih.
Khasnya dalam menemukan kembali kapasitas diri sebagai pribadi berintegritas kala bangsa ini surplus petinggi dan miskin pemimpin; surplus akademisi dan miskin intelektual; serta kaya politisi dan miskin negarawan.
“Boleh jadi, tokoh Rochjani Soe’oed akan menjadi salah seorang tetiba dirindukan, ketika cermin kebangsaan kita jatuh dan pecah berkeping, karena kita mengabaikan sejarah sejarah,” kata Bang Sem.
Literatur sejarah tentang peristiwa Sumpah Pemuda 1928 sudah banyak. Tetapi masih sedikit karya yang membahas tentang peranan tokoh Sumpah Pemuda 1928 menjelang, saat hari pelaksanaan, hingga pasca peristiwa tersebut.
Buku berjudul M. Rochjani Soe’oed: Dari Betawi untuk Indonesia, termasuk satu dari sedikit karya membedah tokoh Sumpah Pemuda 1928 peran Rochjani Soe’oed.
Seorang pemuda Betawì dari organisasi Pemoeda Kaoem Betawi, berada dalam peristiwa penting gerakan pemuda di era pra kemerdekaan Indonesia kala itu.
Dalam berbagai catatan sejarah tentang Sumpah Pemuda 1928, data tentang sosok Rochjani Soe’oed dan kehidupannya minim sekali. Kendati pun telah dicari dalam berbagai literatur tokoh Betawi. Hasilnya nihil.
Padahal, dia memegang peran penting dalam Sumpah Pemuda 1928, yaitu sebagai sekretaris pembantu V dan salah satu pemimpin rapat di hari kedua Kongres Pemuda II 1928 serta turut menyusun narasi Sumpah Pemuda 1928 dikenal saat ini.
Penulis buku ini, Lahyanto Nadie dan Zaenal Aripin menemukan data awal sebagai sumber primer penulisan tentang Rochjani Soe’oed dari ‘manuskrip” Jepang, berjudul Orang Indonesia Jang Terkemoeka di Djawa terbitan Gunseikanbu 2604.
Buku ini kendati menulis tentang tokoh Sumpah Pemuda 1928, penulis mendisklaimer sebagai tulisan reportase perjalanan hidup Rochjani Soe’oed.
“Ini bukan buku sejarah, tetapi reportase sejarah hidup tokoh Sumpah Pemuda 1928, khususnya tentang Rochjani Soe’oed,” kata Lay.


Salut untuk Bung Lahyanto Nadie yang tetap aktif menulis dan menerbitkan buku dalam berbagai topik setelah pensiun dari kegiatannya sebagai wsrtawan.. Saya berharap bisa membaca lebih banyak lagi cerita tentang tokoh-tokoh legendaris Betawi dari karya-karya Bung Lay. Harus kita akui bahwa sepeninggal wartawan Kantor Berita Antara, Idrus Shihab, tak banyak lagi bisa kita baca tentang tokoh dan budaya Betawi. Congrats and keep up the good work, Lay. Best.