Dampak Positif KKN Internasional, Pendaftar MHU UIN Walisongo Melonjak 200 Persen
SEMARANG[BahteraJateng] – Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional di Haramain (Makkah dan Madinah) yang digagas Program Studi (Prodi) Manajemen Haji dan Umrah (MHU) Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Walisongo Semarang berdampak positif terhadap minat calon mahasiswa baru. Pada penerimaan mahasiswa tahun 2026, jumlah pendaftar Prodi MHU melonjak hingga 200 persen dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Kepala Prodi MHU FDK UIN Walisongo, Dr. Abdul Rozaq, M.Si., AH, mengatakan jumlah pendaftar yang sebelumnya berkisar 100–120 orang per tahun kini meningkat menjadi lebih dari 300 orang.
“Lonjakannya cukup fantastis. Dari yang tiap tahun sekitar 100 sampai 120 calon mahasiswa, sekarang menjadi 300-an pendaftar,” ujar Rozaq usai pelepasan peserta KKN Internasional Haramain di Laboratorium FDK UIN Walisongo, Selasa (21/7/2026).
Menurutnya, peningkatan tersebut menjadi tantangan baru bagi pihak prodi dalam menyiapkan layanan akademik, mulai dari pembagian kelas hingga kebutuhan tenaga dosen.
“Ini menjadi PR tersendiri, dari membagi kelas, dosen, dan sebagainya,” katanya.
Sementara itu, Rektor UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. Musahadi, M.Ag., menilai Prodi MHU tengah mengalami tren positif karena mampu menjawab kebutuhan industri penyelenggaraan haji dan umrah yang terus berkembang.
Ia menjelaskan, mahasiswa MHU tidak hanya dibekali teori manajemen dan keilmuan haji-umrah, tetapi juga memperoleh pengalaman praktik langsung melalui KKN Internasional di Makkah dan Madinah. Pengalaman tersebut dinilai penting untuk membangun profesionalisme sekaligus memperluas jejaring dengan para muthawif di Arab Saudi.
“Program MHU ini sedang naik daun. Sekarang termasuk prodi dengan jumlah pendaftar terbesar, setelah Pendidikan Agama Islam (PAI),” kata Musahadi.
Menurutnya, meningkatnya minat masyarakat juga dipengaruhi prospek kerja yang semakin terbuka, terutama setelah terbentuknya Kementerian Haji dan Umrah RI.
“Ini menunjukkan masyarakat melihat ada prospek yang menjanjikan dari prodi ini. Efeknya, tahun ini pendaftar mengalami peningkatan yang sangat signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” ujarnya.
Musahadi menambahkan, selama ini banyak pembimbing haji dan umrah atau muthawif lahir secara kultural tanpa melalui pendidikan formal yang terstruktur. Kehadiran Prodi MHU menjadi jawaban atas kebutuhan tenaga profesional di bidang tersebut.
Karena itu, ia berharap Prodi MHU terus meningkatkan kualitas pembelajaran, kompetensi dosen, serta inovasi agar mampu memenuhi kebutuhan industri dan tuntutan masyarakat.
“Manajemen haji dan umrah tidak cukup hanya dipelajari di kelas. Mahasiswa harus melihat langsung praktik di lapangan sehingga memiliki kompetensi yang utuh,” tegasnya.
Salah seorang orang tua mahasiswa MHU, H. Ansori Naim, juga mengapresiasi program KKN Internasional tersebut. Menurutnya, biaya mandiri sebesar Rp36 juta dinilai sebanding dengan pengalaman yang diperoleh mahasiswa selama 36 hari di Arab Saudi.
Ia berharap seluruh peserta dapat menjalankan program dengan lancar dan kembali ke Indonesia dalam keadaan sehat serta membawa pengalaman yang bermanfaat.

