Investasi di Jateng Tak Terpengaruh Situasi Politik 2024
SEMARANG[BahteraJateng] – Investasi di Provinsi Jawa Tengah diyakini tidak akan terpengaruh dengan situasi politik menjelang Pemilu 2024. Hal ini dibuktikan dengan sudah masuknya calon investor yang akan mengembangkan usaha di Jateng.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Jateng, Sakina Rosellasari mengatakan kekhawatiran memasuki tahun politik yang juga akan berdampak terhadap pertumbukan investasi di Jateng tidak terbukti.

“Pada Januari ini, kita sudah menerima kunjungan calon investor dari China dan dalam waktu dekat juga akan ada lagi calon investor yang datang ke Jateng,” ujarnya.
Sakina menambahkan, calon investor yang datang tersebut, untuk melakukan pengembangan usaha di Jateng. Sebelumnya, usaha tersebut sudah ada provinsi lain dengan pola Penanaman Modal Asing (PMA). Menurutnya, calon investor tersebut, menyatakan bahwa Jateng lokasinya sangat strategis.


“Dari pertemuan dengan calon investor minggu lalu, mereka terlihat tertarik untuk mengembangkan usaha di Jateng. Menurut mereka, Jateng mempunyai daya tarik tersendiri, dari mulai lokasi yang strategis, infrastruktur, SDM dan lainnya,” tutur Sakina.
Menurut calon investor, dibandingkan dengan negara lain, Indonesia regulasinya lebih sttle dan tidak terpengaruh situasi politik, sehingga untuk bisnis, lebih terjamin keberlangsungannya.
Bahkan Jateng mencatat investasi selama 2023, untuk penanaman modal naik 12,59% dari Rp68,41 triliun pada 2022 menjadi Rp77, 02 triliun, dan menyerap tenaga kerja sebanyak 280.643 orang.
Sakina menuturkan, penanaman modal dalam negeri (PMDN) mencapai Rp32,98 triliun, sementara sektor UMKM mencatatkan Rp20,9 triliun. Sedangkan, Penanaman modal asing (PMA) mencatatkan Rp23,14 triliun.
“Ada kenaikan signifikan, yang naik adalah PMDN dan UMKM. Kemudian untuk PMA ada penurunan, meskipun sebetulnya Jateng jadi provinsi favorit padat karya,” ujarnya.
Sakina menambahkan, Jateng menjadi daerah yang diminati oleh pemodal karena beberapa hal, di antaranya aksesibilitas, ketersediaan tenaga kerja dan upah yang kompetitif. Adapun, sektor investasi yang paling diminati PMA adalah industri padat karya, seperti barang dari kulit dan alas kaki, industri mesin, elektronik, alat kedokteran dan industri tekstil.
Sementara, untuk PMDN, sektor transportasi, gudang, telekomunikasi, perumahan, kawasan industri dan perkantoran, paling diminati.
Hal lain yang menggembirakan, lanjutnya, jumlah proyek investasi yang mencapai 122,3%. Pada 2022 total proyek PMA dan PMDN hanya 19.374 unit, sedangkan pada 2023 mencapai 43.080 unit. (rs)

