Keracunan MBG di SMKN 6 Semarang
Kasus dugaan keracunan MBG di SMKN 6 Semarang, Sabtu (1/8).(Dok. Humas Pemkot)

Kasus Dugaan Keracunan MBG di SMKN 6 Semarang, Dinkes Temukan Ini

SEMARANG[BahteraJateng] – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang menemukan sejumlah persoalan dalam investigasi dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMKN 6 Semarang. Salah satu temuan penting yakni makanan diduga telah dimasak sejak pukul 21.00 WIB pada malam sebelum dibagikan kepada siswa.

Kepala Dinkes Kota Semarang Abdul Hakam mengatakan, makanan yang dibagikan pada pagi hari idealnya dimasak mendekati waktu distribusi. Setelah matang, makanan juga seharusnya segera didistribusikan dan dikonsumsi untuk menjaga kualitas serta keamanan pangan.


“Idealnya makanan yang dibagikan pagi hari mulai dimasak sekitar pukul 04.00 atau 05.00 pagi. Setelah matang sebaiknya tidak lebih dari dua jam langsung didistribusikan dan dikonsumsi,” kata Hakam pada Senin (3/8).

Dinkes juga menemukan dugaan ketidakpatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Dari 19 SOP yang seharusnya dipenuhi, hanya tiga yang dinilai telah dilaksanakan.


Tiga SOP tersebut meliputi penggunaan bahan baku, proses distribusi makanan, serta prosedur penyajian kepada siswa. Artinya, terdapat 16 SOP yang belum terpenuhi.

Sementara itu, penyebab pasti dugaan keracunan masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. Sampel makanan berupa ayam bumbu rendang, daun singkong, tahu, dan telur puyuh telah diambil untuk pemeriksaan kultur bakteri yang membutuhkan waktu sekitar 7-14 hari.

Berdasarkan wawancara terhadap siswa yang mengalami gejala, ayam bumbu rendang menjadi menu yang paling banyak dicurigai. Dugaan juga mengarah pada telur puyuh dan daun singkong.

Dinkes menduga sejumlah bakteri seperti E. coli, Staphylococcus, atau Salmonella berpotensi menjadi penyebab. Namun, kepastiannya masih menunggu hasil kultur laboratorium.

Saat ini sebagian siswa masih menjalani perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan. Mayoritas mengalami mual, muntah, dan diare dengan kondisi yang terus membaik.

Hasil investigasi lengkap nantinya akan diserahkan kepada Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai bahan evaluasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *