Muhammad Sholihin
Penggagas Komisi Pemberantasan Korupsi Nahdlatul Ulama (KPK NU) Muhammad Sholihin (memakai rompi).(Dok. Aliansi Santri Gus Dur)

KPK NU Soroti Pelaporan Kiai Musta’in Syafi’i, Minta Rais Am Jadi Teladan Moral NU

JOMBANG[BahteraJateng] — Penggagas Komisi Pemberantasan Korupsi Nahdlatul Ulama (KPK NU) Muhammad Sholihin menyoroti pelaporan terhadap Kiai Musta’in Syafi’i, pengajar Pondok Pesantren Tebuireng, ke polisi. Ia menilai kritik terkait transparansi harta kekayaan Rais Am PBNU semestinya tidak dibalas dengan pelaporan hukum.

Sholihin mengatakan Rais Am merupakan simbol moral tertinggi di Nahdlatul Ulama (NU). Karena itu, menurut dia, sosok yang menduduki posisi tersebut harus menjadi teladan dan terbuka mengenai asal-usul kekayaannya.


“Rais Am adalah simbol NU. Puncak keteladanan ada padanya. Jika sampai dipertanyakan harta kekayaannya bahkan oleh seorang kiai pengajar di Pondok Pesantren Tebuireng yaitu Kiai Musta’in Syafi’i, maka sungguh telah runtuh pijakan moral NU,” ujar Sholihin di lokasi Muktamar NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras, Jombang pada Sabtu (29/8).

Sholihin yang juga memimpin Aliansi Santri Gus Dur menyebut pelaporan Kiai Musta’in oleh kelompok yang mengatasnamakan Rais Am PBNU menimbulkan keprihatinan di kalangan nahdliyin, terutama saat Muktamar ke-35 NU tengah berlangsung.


“Di saat NU sedang Muktamar, ada kiai dilaporkan polisi hanya karena bersuara kritis menyerukan amar mungkar,” katanya.

Menurut Sholihin, pernyataan Kiai Musta’in Syafi’i tidak semestinya langsung dikategorikan sebagai pencemaran nama baik maupun fitnah. Ia menilai kritik tersebut berkaitan dengan pentingnya memastikan sumber harta kekayaan, sebagaimana keteladanan Sayyidina Umar.

“Kiai Musta’in Syafi’i Tebuireng itu mengungkapkan rasa cinta pada ulama dengan jujur nan lugas. Harusnya diucapkan terima kasih, bukannya dilaporkan ke polisi,” tegasnya.

Sholihin menambahkan, persoalan transparansi harta menjadi penting bagi NU karena Rais Am memiliki posisi strategis sebagai simbol keteladanan moral organisasi. Ia mengingatkan, hilangnya kepercayaan umat terhadap ulama dapat berdampak pada wibawa dan pijakan moral NU.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *